Recent Posts

Recent Comments

FAJRI 99.3 FM


Tinggal Click

Jualan Buku Tanpa Modal

Sudah Gratis, Tok Cer lagi

smadav antivirus indonesia
Showing posts with label Renungan. Show all posts

"Bagi NU mau ada seribu Lady Gaga enggak akan mengubah keimanan orang NU,”
Hadeuh... jika diperkenankan, izinkan saya tertawa ketika mendengar pernyataan ketua PBNU Said Agil Siraj tersebut. Maaf, bukan bermaksud melecehkan. Apalah saya dibandingkan beliau. Namun, entah sudah yang keberapa saya mendengar pernyataan-pernyataan nyeleneh yang dilontarkan oleh tokoh yang membelot dari peneliti sunnah dan kini menjadi pejuang pembela Syi'ah itu pada akhir-akhir ini.
Nah, karena sudah terlalu banyak yang dilontarkan oleh pemimpin baru NU itu, bagi saya, ya sudahlah, biarkan ia berkicau terus dengan hobinya tersebut, biarkanlah urusannya kita serahkan kepada Alloh, karena bagi saya, yang menjadi persoalan adalah pada diri kita masing-masing.
Bagi kita, komentar dari tokoh di atas mungkin terasa menggelikan, apalagi jika dilontarkan oleh seorang yang telah mengunyah-ngunyah pendidikan S1, S2, S3 nya di Saudi, tentu sangat tidak masuk akal. Tetapi itulah, hidayah memang bukan milik Saudi, Namun milik Alloh swt. Tetapi sekali lagi, masalahnya bukan itu, tetapi masalahnya ada pada diri kita. Seringkali kita lupa dan tanpa sadar bahwa kita sendiri ternyata telah menjadi contoh dari pernyataan di atas. Mental kita tak jauh dari mental sang tokoh nyeleneh di atas.
Betapa tidak? Seringkali di sela-sela waktu, dengan bersimpuh manis sambil menghadap ke arah kotak ajaib yang mempertontonkan aktor dan aktris tak Islami dan kebanyakanyan berpakaian seronok itu, pada hakikatnya dengan tanpa malu kita telah mempertontonkan kepada Alloh Yang Maha Menyaksikan, pada malaikat yang mencatat segala amalan dan kepada setan yang tertawa menyaksikan kedunguan, bahwa mental kita, tak jauh berbeda dengan sang tokoh tersebut, bahwa pernyataan tak tergoyahkan iman walau dengan 1000 Lady Gaga ternyata telah mengejewantah di rumah-rumah kita sendiri
Kita selalu merasa "ah hanya sinetron", "ah hanya untuk hiburan", "ah cuma sebentar saja paling tidak dosa", "ah... ah... ah..." Ya mungkin setelah sampai pada "ah" yang ke 100 atau ke 1000, baru kita akan mengatakan, "ah, cuma Lady Gaga"....



Selengkapnya...

Yang kaya makin kaya, yang miskin tambah sengsara... kiranya, filosofi ini benar-benar telah melekat menjadi darah dan daging di tubuh bangsa kita ini... Ketidakpedulian terhadap nasib saudaranya begitu terasa menyengat... hihihihi... tawon kali menyengat... Bayangkan, hanya dalam 1 malam, uang sebesar 4 miliyar habis hanya sekedar untuk acara pesta pernikahan yang baru saja dilangsungkan oleh salah seorang artis muslim di negeri kita. Itu baru acara pernikahannya, belum ininya, belum itunya... Wah, gak kebayang deh, soalnya, jangankan yang segitu, yang “Nol (0) nya di atas enam” aja belum pernah megang...
Hihihi... kasihan deh loe... kismiiiin...
Whahahahaha... ga apa-apa, biar kismin asal setiap hari masih bisa makan nasi sama sambel terasi (yang aduhai) buatan yayangku..., itu saja sudah cukup...

Nah menurut beritanya, acara itu juga banyak dihadiri oleh para pejabat tingkat tinggi... Ckckck... Saya membayangkan, jika para pejabat itu dikunjungi oleh para demonstran (rakyat mereka sendiri) untuk diajak dialog bersama (yang juga pernah saya alamin), pasti susahnya minta ampun, boro-boro bertatap muka, mendengar sepetak-dua petak kata-katanya saja seperti menggali sumur di padang pasir. Mungkin para demonstran di negeri ini harus lebih “pandai” lagi, seperti artis itu, jika ingin mengundang pejabat untuk berdialog, cobalah adakan acara yang spektakuler, yang bombastis. Sekarang memang bukan lagi jamannya tikus senang keju, tapi... duit... “money.. money.. money..” hehehehe... gimana mau dicoba ga?
Hus..!! kok jadi ke sana sih... wong lagi bahas tentang 4 milyar itu... Oh iya... maksudnya sih, sambil menyelam minum air gitu loh..!!
Oke... jadi begini..., dalam Islam, yaitu di agama kita, yang juga agama ke dua artis tersebut, jelas tidak ada sejarahnya Rosululloh saw dan para sahabatnya mencontohkan perbuatan seperti itu... justru mereka mencontohkan bagaimana hidup sederhana, walaupun dalam kenyataannya, mereka adalah orang-orang kaya. Sangat kaya sekali, bahkan jika dibandingkan dengan artis yang kita jadikan sebagai contoh di atas, tidak ada apa-apanya. Coba saja kita hitung, dari 4 orang sahabat yang terkenal, yang kemudian hari mereka menjadi Khulafaurrasyidin, hanya Ali bin Abi Tholib yang terkenal miskin..., dan coba lihat 3 orang selainnya..., Abu Bakar, Umar, Utsman, mereka para Milyarder kelas kakap, top markotop, dan super duper maknyos..., tidak ada yang meragukannya.
Abu Bakar Ash-Shiddiq, apa sih yang beliau tidak punya dari harta kekayaan dunia. Beliau seorang saudagar besar yang kalau mau menumpuk kekayaan, tidak akan habis dimakan tujuh turunan. Tetapi seluruh harta yang beliau miliki diinfaqkan ke baitul muslimin. Ketika ditanya apa yang disisakan untuk anak dan isteri, beliau hanya menjawab bahwa untuk anak dan isteri adalah Allah swt. Subhanallah!
Umar bin Khattab, beliau adalah seorang yang pernah mendapatkan hak eksklusif atas perkebunan kurma di Khaibar. Kalau dinilai nominal, maka hak itu akan membuatnya sangat kayaraya dan bisa membangun istana termegah di muka bumi dengan biaya pribadi, tetapi beliau justru mewakafkannya di jalan Allah swt.
Belum lagi Utsman bin Affan, ah... melihat infaq-infaq yang pernah beliau keluarkan untuk perjuangan Islam selama hidupnya yang jumlahnya WAH bin AJIB, tentu tak akan membuat sejarah salah menulis bahwa beliau adalah seorang yang kere.
Dan bahkan Rosululloh..!! Rosululloh..?? Ya.. Rosululloh saw..!! Kalian pikir beliau siapa..?? Orang miskin..?? Ya iya lah..., emangnya Agan belum pernah denger kalau di rumah beliau jarang ditemukan satupun makanan dan hidup beralaskan tikar kasar..!! Apalagi coba kalau bukan disebut miskin..?? Hahahaha... Bro and sis... cobalah kalau kita melihat sejarah, membaca atau mendengarkannya itu lebih teliti lagi, lebih cerdas, lebih cermat, lebih hemat pangkal kaya dan rajin pangkal pandai... Wong beliau adalah orang yang paling kaya di antara para sahabatnya..!! Masa sih..??
Coba bayangkan.... Rasulullah saw itu sudah mengenal uang ketika umurnya baru menginjak usia 8 tahun, beliau mulai bekerja dan mendapatkan gaji. Pekerjaan pertamanya menggembala kambing. Umur 12 tahun beliau saw sudah pulang pergi ke luar negeri ikut dalam bisnis keluarga. Umur 15 sampai 19 tahun ikut dalam perang sehingga punya pengalaman mlliter. Umur 20 tahun beliau saw sudah menjadi pengusaha yang investornya adalah Khadijah. Sewaktu berumur 25 tahun, beliau menikah dengan investornya. Berapa maharnya? Seratus ekor unta. Bila kita kira-kira dan tanyakan, berapa harga satu ekor unta sekarang? Jauh lebih mahal dari 1 ekor sapi. Kira-kira 10 juta per 1 ekor unta, jadi totalnya berapa? Segini nih: 1.000.000.000 atau ringkasnya = RP. 1 Milyar. Subhanalloh. Ada yang pernah ngliat uang segitu ga?
Namun setelah beliau saw diangkat menjadi Nabi, profesi berdagang beliau saw tinggalkan. Akan tetapi, apakah lantas menjadikan beliau saw jatuh miskin? Tidak, justru saat itulah beliau menjadi orang terkaya. Darimana pemasukan beliau saw? Pemasukan beliau adalah dari ghanimah (harta rampasan perang), di mana oleh Allah swt, beliau diberikan hak istimewa atas setiap harta rampasan perang. Bila suatu kota atau negeri ditaklukkan oleh kaum muslimin, maka beliau punya hak 20% dari rampasan perang. Hak ini menjadikan Rasulullah saw sebagai orang dengan penghasilan terbesar di Madinah. Rampasan perang itu bukan harta yang sedikit, sebab terkait dengan semua aset-aset yang ada di negeri yang ditaklukkan.
"Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kalian peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS Al-Anfal: 41)
Namun semua hak yang beliau terima itu tidak menjadikan beliau saw hidup di istana megah, atau mengoleksi semua baju termahal dunia, atau makan makanan terlezat di dunia. Semua tidak terjadi pada beliau, sebab semua harta yang beliau dapatkan hanya beliau kembalikan lagi buat para fakir miskin dan orang-orang tak punya yang membutuhkan.
Kehidupan pribadi beliau sendiri terlalu bersahaja seperti yang tadi sudah temen-temen sangka, tidur hanya beralas tikar kasar yang kalau beliau bangun, maka masih tersisa bekas cekatannya di kulit beliau. Bahkan pernah 3 bulan dapur rumah beliau tidak mengepulkan asap.
Umar bin Khattab suatu hari pernah mengunjungi rumah beliau saw, sedang saat itu, beliau saw sedang berbaring miring di atas tikar pandan kecil yang bersulam, dan di bawah kepalanya bantal dari kulit berisikan rumput kering. Tak kuasa melihat keadaan yang dialami oleh seorang Rasul yang mulia seperti itu, Umar pun menangis. Ada apa engkau menangis wahai Umar? Tanya Rasulullah saw.
Umar menjawab, "Demi Allah, saya tidak menangis kecuali tahu bahwa engkau lebih Allah muliakan daripada Kisra dan Qaishr. Mereka hidup dalam kesenangan, sementara engkau, Rasulullah saw, di tempat yang saya lihat?"
Rasulullah saw bersabda, "Apakah engkau tidak rela dunia menjadi milik mereka dan akhirat untuk kita?"
Umar menjawab, "Ya, aku rela."
Rasulullah saw bersabda, "Begitulah yang benar"
...spechles...
Kehidupan Rosululloh saw yang begitu sederhana walau memiliki segala-galanya itu pun kemudian diikuti oleh para sahabatnya. Kedermawanan mereka, kepedulian mereka terhadap sesama, infaq-infaq mereka yang luar biasa fi sabilillah, lebih banyak dan lebih sering kita dengar tiada taranya... Namun sayangnya, kita ternyata hanya senang mendengar saja, dan hampir menghabiskan seluruh kehidupan kita seperti layaknya artis-artis itu.... Yah karena mungkin, kita telah beralih pada tauladan yang baru.... Wal’iyadzubillah.

Selengkapnya...

Baru tahu, ternyata di salah satu statiun televisi menayangkan cuplikan adzan yang disertai kata-kata renungan tentang fenomena perbedaan waktu antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, sehingga adzan telah dikumandang dari beribu surau, beribu masjid tanpa jeda, berikut renungannya yang bisa saya ambil dari cuplikan tersebut:

Sebelum adzan Subuh sempat berkumandang di wilayah terbarat benua Afrika, adzan Dzuhur pun siap berkumandang menjelajah belahan dunia lainnya.

Sementara kumandang adzan Dzuhur belum sempat terdengar kembali di bagian timur Indonesia, adzan Ashar telah siap menjelajah bagian dunia lainnya.

Saat gema adzan Ashar belum selesai, adzan Maghrib telah merambah bumi ini.

Selang beberapa saat adzan Isya’ pun siap melanjutkan.

Ketika gema adzan Isya’ belum selesai di benua Amerika, adzan Subuh sudah kembali terdengar di sebagian wilayah Indonesia.

Seiring bergantinya siang dan malam, ternyata adzan akan selalu berkumandang di bumi ini.

Tanpa kita sadari, para muadzin di seluruh penjuru dunia ini tak henti-hentinya bersahutan mengumandangkan adzan.

Insya Allah gema adzan akan terus mengawal dunia berputar hingga akhir zaman.


Subhanalloh, itulah kata-kata yang bisa saya ucapkan ketika melihat salah satu cuplikan azan maghrib tersebut... terhentak rasanya, bagaimana tidak, ternyata kalimat takbir, "ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR (Alloh YANG MAHA BESAR, ALLOH YANG MAHA BESAR, ALLOH YANG MAHA BESAR..." selalu dan senantiasa bergema dan saling sahut-menyahut mengiringi perjalanan manusia... Bisa kita bayangkan bagaimana kalimat-kalimat ini naik ke atas langit, memenuhi angkasa yang sangat luas..., berkeliling dengan gerakan perputaran yang teratur dan sangat indah, sekaligus meneriakkan lantang kepada kita, "Afala ya qiluun...?" "Afala yatadabbarun...?" Betapa kebesaran Alloh swt begitu tampak jelas di hadapan kita...

Subhanallah, betapa MAHA SEMPURNANYA Alloh sehingga dia bisa memperhitungkan segala-galanyanya. Dia membuat bumi dengan perbedaan waktu dan matahari dan seisi nya penuh dengan hikmah yang sangat agung.

Jika kita dapat merenungkan dan mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya, tentunya akan semakin besarlah pengagungan kita kepada-Nya dan tidak ada alasan lagi bagi kita untuk meninggalkan perintah-Nya karena adzan selalu memanggil-manggil kita untuk bersujud pada-Nya. Allohu Akbar

Selengkapnya...

Dengan berharap maghfirah dan hidayah-Mu, kuarungi hari, kulewati masa, kususuri lorong-lorong kehidupan, berharap terdampar di negeri kebahagiaan. Kan kulabuhkan semua asaku di sana. Alhamdulillah, kini telah ada seorang hamba yang mengiringi langkahku. Bersamanya kuarungi bahtera kehidupan. Bersamanya kulewati rintangan. Bersamanya pula kurangkai masa depan. Ya Rabbi… sungguh perjalanan kami di dunia tiadalah berarti tanpa petunjuk-Mu. Setitik amal kamipun takkan berarti tanpa ridha-Mu. Di setiap hembusan nafas kami, setiap tetes darah dan keringat kami, ada do’a dan harapan yang terus mengalir. Kami malu kepada-Mu, Rabbku… ketika alam dan segenap makhluk bertasbih memuji-mu, kami terus saja terlena dengan dunia. Tak sadar maut mengintai setiap saat, pemutus setiap khayal dan kenikmatan. Di sana jasad terkubur, tubuh terbujur, jiwa merintih pilum berharap syafaat datang menjelang. Namun…, kemana lagi kalbu mengadu, sementara dulu sering melalaikan-Mu, melupakan firman-Mu, meninggalkan ajaran-Mu. Duh, malang nian nasib diri. Hanya penyesalan yang tersisa. Ya Rabbi… hindarkanlah kami dari penyesalan tak berujung. Jadikanlah sisa umur kami bertabur amal dan kebajikan.

Alhamdulillah, setelah lama dicari, potongan nasehat yang dulu pernah dibuat oleh isteri saya ini bisa ditemukan kembali... Semoga dengan ditulisnya sepotong nasehat ini di blog ini bisa terus tersimpan dan mengingatkan saya di setiap saat.

Selengkapnya...

Bagi kita yang tinggal, atau pernah merasakan tinggal di kota, tentu tidak asing dengan yang namanya pengamen... ya... di jalan-jalan pengamen dan peminta anak-anak berkeliaran. begitu lampu lalu lintas menyala merah, mereka berhamburan ke mobil pribadi dan umum. Hampir 1 bulan yang lalu, saya pulang kampung ke tempat isteri, Majalengka, kemudian pulang lagi ke Bogor 1 hari berikutnya menggunakan bus 3/4 jurusan Cirebon-Bekasi. Nah... tiba di Cikopo, sebelum memasuki tol, seorang pengamen remaja masuk dan berdiri di dekat saya. Dari sorot matanya, tampak seperti orang tidak sadar (mungkin terpengaruh minuman). Ia bernyanyi seadanya, lantas menyodorkan tangan meminta uang. Saya mengangkat tangan, tanda meminta maaf tidak bisa memberi. Saya mungkin terlalu "bersuudzon" terhadap uang yang mungkin jika saya berikan akan dia pergunakan untuk hal yang tidak diinginkan. Tak dinyana, remaja itu memaki dengan kata-kata kotor. Mungkin sebelumnya ia sudah gusar karena penumpang lain juga tak memberi uang.
Begitulah... fenomena pengamen yang marah dan memaki bukan sekali terjadi. Nampaknya berbicara kasar dan kotor bagi mereka, seperti sekaligus melepas beban. Namun sepertinya, lepasnya kata-kata itu juga digunakan sebagai senjata mereka untuk menekan para penumpang yang tidak memberi uang kepada mereka, bahkan yang sampai menjurus kepada pemerasan pun kerap terjadi.
Kita mungkin terkadang marah dan geram, namun sebenarnya, kita harus juga mengingat dan merasa prihatin, bahwa mereka bagian dari generasi mendatang. Bagaimana kalau mereka diabaikan terus, tidak dirangkul dan didik. Generasi yang hobi memaki dan menyumpah serapah, nantinya akan menjadi separuh bangsa kita? Sebenarnya yang rugi kita sendiri.
Usaha menolong mereka yang harus dipercepat. Jika tidak, mata rantai ini tidak akan pernah putus. Jangan sampai nantinya mereka meneruskan "pola" sama pada anak-anaknya.
Kemiskinan sering membutakan. Orang-orang yang masih meleklah yang harusnya urun peduli.


Selengkapnya...

Pada awalnya saya tidak mau membaca berita yang ditampilkan oleh salah satu media Islam di bawah ini... begitu melihat judulnya saja, hati saya serasa teriris-iris. Coba saja anda lihat judul yang ditampilkan oleh media tersebut, "Anjing Israel Melahap Tubuh Anak-Anak Palestina." Sepenggal bayangan sudah berkelebat di pikiran tentang kekejaman apa yang ada di balik judul tersebut. Bagaimana mungkin saya akan tega membaca berita yang seperti ini... tetapi pada akhirnya, karena keingintahuan pada berita tersebut saya beranikan juga untuk membacanya:

----------------------------------------------------------------
Kekejian yang dilakukan tentara-tentara Zionis Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza sudah di luar batas perikemanusiaan. Tentara-tentara Zionis itu bukan hanya membantai warga Gaza dengan bom-bom dan tank-tanknya, tapi juga menggunakan anjing-anjing buas untuk meneror warga Gaza.

Kayed Abu Aukal, seorang dokter emergency di Gaza tidak tahu lagi kata-kata apalagi yang bisa digunakan untuk menggambarkan kekejian tentara-tentara Zionis itu. "Oh, Tuhan! Saya tidak pernah melihat pemandangan yang mengerikan seperti ini," cuma itu kata-kata yang terlontar dari mulut Dokter Aukal melihat kondisi jenazah Shahd, seorang balita Palestina yang berusia 4 tahun.

Shahd sedang bermain di belakang rumahnya di kamp pengungsi Jabalita, utara Jalur Gaza ketika sebuah bom Israel jatuh di belakang rumah itu. Shahd yang masih balita itu pun gugur syahid. Orang tua Shahd mencoba menyelamatkan puterinya yang sudah bersimbah darah itu, tapi ketika mereka mencoba mengambil jasad Shahd, tentara-tentara Zionis menembaki mereka dari kejauhan.

Selama lima hari jasad Shahd tidak terurus dan tergelak di tanah, sampai akhirnya tentara-tentara Zionis melepaskan beberapa ekor anjing yang langsung mengoyak jasad Shahd yang sudah tak bernyawa. "Anjing-anjing itu menyisakan satu bagian tubuh dari bayi yang malang itu dalam kondisi utuh," kata Dokter Aukal sambil meneteskan airmata.
----------------------------------------------------------------------------

Begitulah beritanya... Dan itu baru sepenggal berita dari bagian kisah yang menurut saya terlalu kejam untuk diceritakan.
Terus terang, begitu membaca berita di atas, air mata ini tidak kuat untuk saya tahan. Setiap persendian tulang di tubuh terasa lemas... Mungkin kita selalu bertanya-tanya, mengapa bisa seperti ini? Dimanakah PBB? Dimanakah Human Right? Dimanakah asosiasi-asosiasi yang setiap harinya menyerukan kemanusiaan? Dan juga, saya mau menyerukan kepada para tokoh-tokoh Liberal yang biasanya berbicara tentang plurar, kasih sayang... Dimanakah kalian wahai para penista agama? Gus? Cak? Lil? Apakah kalian betul-betul buta? Atau mulut kalian sedang bisu? Lihatlah saudara-saudara kami yang dibantai di sana oleh tuan-tuanmu! Mana suaramu?
Tapi tunggu dulu! Jika para penjahat itu hanya bungkan seribu bahasa. Lantas siapa lagi yang nanti harus bertanggung jawab atas tubuh mungil yang terkoyak itu? Siapa? Tolong jawab pertanyaan saya ini!
Kita tentu tahu siapa lagi yang harus bertanggung jawab! Bukan hanya para pemimpin kita yang sampai saat ini hanya pandai berselimut menyaksikan kebiadaban ini... tetapi kita, kitalah yang juga harus bertanggung jawab atas setiap serpihan tubuh anak-anak di Gaza, kita lah yang bertanggung jawab atas setiap tetes air mata yang keluar dari ibu anak itu yang berteriak memanggil-manggil, "Waladi... Waladi... Anakku... Anakku..."
Ya itulah sekeping kisah menyedihkan yang terjadi di bumi Islam Palestina. Sajian berita di atas seakan-akan menggambarkan kehinaan kita, yaitu ummat Islam secara keseluruhan. Seakan-akan ummat Islam di dunia ini sudah tidak memiliki kehormatan dan keberanian, bahkan untuk sekedar mengusir anjing. Tidak ada lagi singa-singa tauhid. Yang ada adalah para pengecut yang selalu berlindung dibalik "kehangatan" dunia.

Selengkapnya...

Jika Rasulullah saw pernah bersabda, "Perumpamaan seorang muslim dengan muslim lainnya adalah satu tubuh. Bila satu sakit, maka yang lain merasakannya juga." Maka, layakkah pada hari ini kita semua masih bisa tertawa, atau tersenyum sementara saudara-saudara kita di Palestina sedang mengalami cobaan yang begitu dahsyat. Anak-anak dan Orang tua menjadi korban pembantaian Zionis la'natullah 'alaih.
Sekalipun dia bukan seorang muslim, saya yakin, orang itu akan miris jika harus melihat apa yang terjadi di Gaza sana. Hal ini terbukti dengan maraknya aksi-aksi demo yang dilakukan oleh negeri-negeri barat yang menentang aksi biadab yang dilakukan oleh teroris Israel.
Apalagi bila dia seorang muslim. Seharusnya bisa lebih merasakan kesedihan dan duka yang lebih mendalam, karena dia seorang muslim, karena dia merasakan penderitaan di dalam tubuhnya.
Selain itu, memang sudah tanggungjawab seorang muslim untuk membantu sesama muslim lainnya. Dengan apapun, dia harus membantu saudaranya, sekalipun dengan hanya tidak tertawa sebagai rasa peduli terhadap saudaranya.
Sudahkah datang kepada kita kabar tentang Shalahuddin Al-Ayubi, seorang pahlawan Islam? Pada beberapa waktu, Beliau terlihat tidak pernah menampakkan senyuman, ketika ditanyakan alasannya, maka Beliau rhm menjawab dengan jawaban yang mengagumkan, "Bagaimana aku bisa tertawa, sementara Al-Quds tertahan." Maka lihatlah wahai orang-orang yang gemar bercanda dan tertawa.
Lihatlah kemudian, bagaimana Shalahuddin dan bala tentaranya masuk membebaskan Al-Quds dari cengkraman serigala Salibis. Itu semua karena mereka mampu melepaskan segala belenggu kesenangan pribadi, demi membebaskan saudara-saudara mereka yang terjajah dan dibantai oleh orang-orang kafir.
Lantas bagaimanakah dengan kita? Kita sungguh jauh dengan generasi terdahulu. Kita malah bersorak-sorai ketika saudara-saudara kita dibantai di Gaza sana! Benarkah demikian? Ya... Lihat saja ketika awal tahun baru kemarin... kebanyakan kita, yaitu ummat Islam di Indonesia menyambut pembantaian tersebut dengan "takbiran-takbiran" terompet.
Pantaskah kita bergembira ria sementara anak-anak kecil Palestina sedang menangis sambil memanggil-manggil ibunya yang sedang tergeletak di sampingnya? Pantaskah kita menghambur-hamburkan uang hanya untuk merayakan satu perayaan yang sebenarnya itu adalah perayaan para penyembah dewa matahari, sementara ribuan kaum muslimin di Gaza sedang kehabisan obat untuk sekedar menghilangkan rasa sakit dari tubuh mereka?

Hmm... Ya sudah... sepertinya saya belum pandai berkata-kata untuk sekedar membuat nurani ummat Islam di negeri ini tergugah, apalagi untuk membuat mereka tergerak. Saya hanya berusaha untuk membantu dengan apa yang saya bisa... saya baru berusaha untuk menulis dan mudah-mudahan ada manfaatnya... Tetapi, jika memang tulisan ini belum bisa menggugah, maka biarkanlah gambar-gambar di bawah ini yang berbicara:













Selengkapnya...

Di sini kami mencari kematian, kemenangan hanya di sisi ALLOH.
Saat anda tertidur dalam kehangatan selimut daging-daging manusia Bosnia,
dalam kesejukan atap-atap runtuh Chechnya,
dalam kelembutan kehormatan wanita Afgan,
dalam mimpi indah daratan Palestina,
dalam buaian dongeng rakyat Irak.
Kami merayap mencari mati. Kami tidak ingin tidur. Kami takut dengan
kesenangan dunia, kami takut seperti anda, kelak menjadi tamak. Tamak
pada kesenangan semu, tamak pada kesombongan, tamak pada kebohongan.
Kami haus darah. Darah anda, teriakan kesakitan anda, kekalahan anda,
kerugian anda dan ketakutan anda; semua itu menjadi penghibur kami,
penghibur kesepian kami, pengisi waktu kami. Sebelum kami berjumpa
dengan Robb kami, dengan membawa bendera kemenangan.

Kami yakin Rabb kami penuhi janji, kami yakin Al Qur`an benar adanya,
kami yakin sabda Rasululloh, kami yakin Islam akan selalu berkibar dan
menyebar serta menjadi yang terbenar.

Setiap tetes darah kami di sini, adalah janji syurga dan kemenangan
akhirat semakin mendekat. Setiap peluh keringat kami di sini, adalah
yakin membersihkan tanah Islam yang telah ternajisi tapak-tapak kaki
anda. Pekikan kami adalah lagu-lagu suci, pengagung yang Teragung.


---------------------------------------------------------------------------

Setiap kali membaca puisi di atas saya selalu merasakan gejolak di dalam hati... antara malu dan rindu... malu, karena selama ini ternyata saya tidak memiliki satu peranpun yang bisa dibanggakan di hadapan Allah swt sebagai bukti pengorbanan saya untuk agama yang saya cintai ini. Padahal di luar sana, ada satu-dua orang yang mereka tidak saya kenal namanya, dimana tempatnya, siapa ibu bapaknya, namun dengan segenap keikhlasan, mereka mampu mengerahkan segala apa yang mereka miliki demi mempertahankan kehormatan Islam, memperjuangkannya sekalipun harus melumurinya dengan tetesan darah. Itu semua, mereka korbankan demi memberikan satu bukti pada Allah swt bahwa mereka layak untuk menyandang gelar "Ansharullah".
Rindu... rindu sekali jiwa ini untuk segera terbang... menuju kancah perjuangan layaknya tempat mereka berjuang... Malu... malu sekali jiwa ini karena sampai saat ini hanya mampu terus menerus meratapi kekerdilan jiwa yang takut untuk berjuang...
Allahumma... Allahumma... Ya Allah tegakkanlah jiwa ini... teguhkanlah kaki ini untuk suatu hari dimana Engkau perjumpakan aku dengan mereka... Aamiin.

Selengkapnya...

Yuk.Ngeblog.web.id

Pengikut Seiman

Pesan Tulisan


ShoutMix chat widget