Recent Posts

Recent Comments

FAJRI 99.3 FM


Tinggal Click

Jualan Buku Tanpa Modal

Sudah Gratis, Tok Cer lagi

smadav antivirus indonesia

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Aku tak tahu, apakah ini kesialanku atau keberuntunganku. Satu yang kutahu, inilah jalan yang diberikan Allah untuk bertemu jodohku. Meski awalnya, aku merasa sial karena kecelakaan itu dan aku harus mengganti rugi tidak sedikit. Toh akhirnya justru kesialanku itu membawaku ketemu jodoh. Ceritanya begini, secara tak sengaja aku menabrak seorang polisi sepulang kuliah. Tak kusangka “motor butut”-ku bisa merusak total motornya yang bernilai puluhan juta. Perasaan, mataku sudah fokus ke jalan, tak jelalatan kemana-mana. Doa juga sudah kubaca saat aku menyalakan mesin motor di parkiran I kampus.

Memang sudah apes dan inilah yang dinamakan takdir. Nggak diminta dan meski sudah hati-hati eh… nabrak juga, … polisi lagi. Aku dan motorku sempat juga jungkir balik, Alhamdulillah lukaku tak seberapa parah, meski jidatku sempat berdarah-darah dan tanganku terkilir, serta luka lecet hamper diseluruh tubuh. Meski tak sampai membuatku pingsan, aku harus merasakan mondok tiga hari di rumah sakit.

Sementara polisi yang kutabrak tak separah aku. Tapi justru motornya yang parah, sempat aku ciut nyali saat temen-temen polisi dan orang-orang mengerumuniku. Di TKP teman-teman polisi itu justru yang marah-marah dan bersikap agak keras padaku, tapi mas polisi itu justru minta teman-temannya bersikap baik dan sabar padaku.

“Sudah, nggak papa namanya juga nggak sengaja, memang ada orang mau nabrak atau ditabrak? Jangan kasarlah aku baik saja kok. Kayaknya motor yang kena, nanti kan bisa diselesaikan baik-baik”.

Aku dibuat kagum bahkan polisi yang kutabrak itu berbaik hati mengantarku ke rumah sakit dan mengabari keluarga dirumah. Selama tiga hari itu dia juga menyempatkan diri menjengukku di rumah sakit. Kami jadi akrab karenanya.

Nah, setelah keluar dari rumah sakit aku mulai disibukkan urusan ganti rugi onderdil motor senilai puluhan juta itu. Ganti rantai saja nilainya jutaan rupiah, itu pun belum spare part lain.

Makanya hampir seluruh tabungan hasil kerja sampinganku ludes semua. Tapi aku memang harus bertanggungjawab bukan? Aku tak mau menyusahkan orangtua soal ganti rugi, hingga aku bilang ke mas polisi cuma bisa mencicil sedikit demi sedikit.

Seperti biasa, kali ini aku ke rumah mas polisi untuk mencicil ganti rugi. Ini keempat kalinya aku kesana. Sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih dia menerima “setoranku”. Dan seperti biasa pula kami ngobrol sejenak. Tak kusangka dia tiba-tiba bertanya, “sudah ada gambaran nikah belum?” tanyanya padaku sambil mesem-mesem.

“Ya kadang pingin juga mas, kerja kecil-kecilan insya Allah sudah ada, pinginnya nggak nunda-nunda, tapi jodohnya belum ada”. Jawabku sambil cengar-cengir.

“Mau sama adikku? Serius nih, orangnya pake jilbab gedhe kamu carinya kan yang kayak gitu”. Mas polisi bilang gitu mungkin karena celanaku yang “kayak orang kebanjiran” seperti temen-temen kampus yang suka meledekku.

“Bener kok, serius!” Ujarnya menegaskan.

Sore itu aku pulang dan berjanji memikirkan tawarannya. Setelah berkonsultasi dengan orang tua dua pekan kemudian kuberikan jawaban “Ya”. Tentu saja, akhwat dan keluarganya sudah tahu keadaanku yang perbedaannya ibarat langit dan bumi dengan mereka yang dari keluarga berada. Meski awalnya minder, sikap bapak akhwat yang begitu baik membuatku percaya diri, pesannya padaku singkat.

“Laki-laki yang bisa menjadi imam dan tanggungjawab, satu lagi jaga anak perempuan saya, dia sepenuhnya saya titipkan ke kamu”.

Meski diberi tanggungjawab yang tak ringan, hatiku serasa diguyur es, sejuk…. Rasanya. Aku segera pulang ke awang-awang sepulang nazhar. Mas Har, si mas polisi yang kutabrak itu mencegatku, ia menyerahkan amplop tebal padaku.

“Ini uang yang kamu titipkan padaku, ini hadiahku tapi bener ya cepet jemput bidadarimu! Ia memukul pundakku ringan dan pergi tanpa memberiku kesempatan bertanya lagi.

Masya Allah, di rumah, begitu kubuka amplop ternyata isinya uang sesuai ganti rugi motor yang kuberikan kepada mas Har. Segera kuhubungi mas Har lewat telepon, tapi ia tertawa ringan.

“Aku sudah bilang, itu untuk calon adikku”.

Berkaca-kaca saat kututup telepon sambil tak henti-hentinya bersyukur. Sudah nabrak orang, dikasih adiknya, dipercaya orangtuanya, uang ganti ruginya masih dikembalikan padaku.

Semalaman aku tak bisa tidur entah karena senang atau bingung. Uang senilai hampir sepuluh juta itu, kuberikan sebagai mahar saat akad nikah buat istri. Tepat sebulan sebelum Ramadhan.

Kini kami sudah punya 2 momongan, insya Allah beberapa bulan lagi akan bertambah seorang lagi. Mas Har menikah 2 tahun kemudian, ia baru punya satu momongan, Alhamdulillah kami semua hidup bahagia. Mas har dan istrinya juga mulai tertarik manhaj mulia ini. Dan itu menambah kebahagiaan kami.

Wallahua’lam bish Shawwab ….

Barakallahufikum ….

… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …

Sumber : kisahmuslim.com

Selengkapnya...

Seringkali..., ah bukan seringkali, bahkan setiap saat media2 sekuler memberitakan tentang kebobrokan masyarakat, pembunuhan, perkosaan, dan lain sebagainya... ? Saya yakin kita semua sepakat dalam hal ini. Nah, sadarkah kita, bahwa berita-berita tersebut sejatinya adalah sebentuk laporan kepada kita tentang pengaruh atau lebih tepatnya sumbahngsih mereka sendiri atas pendidikan sekuler yang mereka tanamkan di negeri kita saat ini. Jadi, kalau ditanyakan, seperti apakah pengaruh yang dihasilkan sekulerisme...? Maka jawabannya, "Ya seperti yang kita lihat di berita-berita" Nah, pasti lain lagi ceritanya, jika yang ditanamkan di negeri ini adalah pendidikan yang berbasiskan syariat Islam. Kenapa? Setidaknya ada 5 alasan yang patut kita renungkan sebagaimana yang pernah diungkap oleh Ust. AM, Waskito:

PERTAMA. Syariat Islam berperan menjaga moralitas manusia. Syariat Islam menyuruh manusia berperilaku baik, berakhlak mulia, dan melarang mereka perbuatan tercela, hina, dan amoral. Syariat Islam melarang eksploitasi tubuh dan kehidupan wanita; Syariat Islam melarang eksploitasi seks, tetapi menghalalkan pemanfaatan nikmat seksual secara legal; Syariat Islam mendorong hidup berkeluarga, serta memfungsikan elemen-elemen keluarga sebertanggung-jawab mungkin; Syariat Islam melarang penistaan, penghinaan, serta penindasan terhadap harkat kemuliaan manusia. Jangankan untuk kasus-kasus serius, sekedar memanggil dengan gelaran-gelaran buruk seperti “Si Cebol”, “Si Bandot”, “Si Botak”, “Si Gendut”, semua itu dilarang. Syariat Islam melarang seks bebas, sodomi, homoseksual, pornografi, minuman keras, narkoba, perjudian, dan sebagainya.

Nyaris tidak ada satu pun agama yang konsisten dalam menjaga moralitas manusia, selain Islam. Bahkan tidak ada ideologi apapun yang begitu kuat komitmennya terhadap moral manusia, selain Syariat Islam. Ideologi-ideologi lain, baik di Timur maupun Barat, pada saat ini sudah nyaris ambruk dalam konsistensinya menjaga moral manusia; karena tidak kuat menghadang badai kehidupan Liberal Kapitalistik yang dipaksakan menjadi satu-satunya norma manusia di dunia (melalui slogan “One World One Heart“). Islam-lah yang terus resisten dalam mengawal moral manusia.

Jika moral sudah ambruk, maka ambruk pula kehidupan manusia. Tidak ada lagi nilai-nilai kemanusiaan, berganti nilai-nilai kebinatangan; lalu hukum kemanusiaan berubah menjadi “hukum rimba”, dimana disana berkalu prinsip: “Siapa yang kuat, dia menang.” Ketika moralitas manusia sudah tereliminasi oleh gerakan-gerakan amoralitas yang sistematik dan massif (yang dikendalikan oleh jaringan Illuminati atau Freemasonry), maka hal ini akan berakibat sangat buruk: Penindasan merebak dimana-mana, kezhaliman merajalela, wabah kriminalitas melanda bak banjir Tsunami, kerusakan lingkungan berparah-parah, pembunuhan dan pembantaian manusia menjadi menu berita standar, hingga pintu-pintu perbudakan dibuka kembali.

Kenyataan seperti inilah yang kini mulai tampak di depan mata kita. Saat mana media seperti MetroTV (dan media sejenis) giat menyerang Syariat Islam dan orang-orang yang peduli dengannya; maka mereka sendiri tidak memiliki kontribusi apapun untuk menyelamatkan kehidupan insan dari penindasan, kezhaliman, penistaan, kesengsaraan, serta perbudakan. Tidak ada sumbangan mereka dalam masalah itu, selain menjual berita saja. Ya bagaimana lagi? Jika moralitas sudah disingkirkan, penindasan yang kan datang menggantikan.

Komitmen Islam terhadap moral sangat tercermin dari ayat berikut ini:

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil dan ihsan, memberi kepada karib-kerabat, mencegah perbuatan keji, munkar, dan kedurhakaan. Dia (Allah) memberikan pelajaran kepada kalian agar kalian senantiasa ingat.” [An Nahl: 90].

KEDUA. Syariat Islam menjaga nilai keadilan dan anti kezhaliman. Ini adalah perkara besar yang harus dipahami. Dimana ada Islam, disana akan dihidupkan nilai-nilai Al Qur’an dan As Sunnah; di antara amanah yang ditekankan dalam Al Qur’an dan Sunnah itu ialah menegakkan keadilan dan memberantas kezhaliman. Dimanapun ada kezhaliman terhadap manusia dan hak-hak kemanusiaan, maka Islam akan tampil membela kaum tertindas.

Islam mengharamkan kezhaliman kapitalistik, dimana orang-orang yang memiliki kekayaan mengeksploitasi kaum fakir-miskin dan alam dengan sesuka hati. Islam mengharamkan kezhaliman hukum terhadap siapapun, baik orang kuat maupun lemah. Islam mengharamkan kezhaliman otoritas penguasa terhadap rakyatnya. Islam mengharamkan kezhaliman atas dasar primordialitas, nasionalisme, juga etnisitas. Islam mengharamkan kezhaliman mayoritas terhadap minoritas; sebagaimana Islam juga mengharamkan tirani minoritas atas mayoritas. Bahkan Islam mengharamkan kezhaliman atas makhluk non manusia.

Ada yang mengatakan, kaum Muslimin bersikap zhalim terhadap hak-hak minoritas seperti kaum Syiah, Ahmadiyyah, Liberal, serta aliran-aliran sesat. Sebenarnya kezhaliman itu tidak ada, sebab umumnya sikap kaum Muslimin ialah BEREAKSI atas provokasi-provokasi yang dibuat oleh para penganut aliran sesat itu. Bahkan kaum sesat itu sejak awal telah meniciderai, menista, serta menodai ajaran-ajaran Islam yang dianut kaum Muslimin. Penodaan mereka jika dibiarkan, jelas akan merobohkan bangunan Islam itu sendiri. Kenyataan ini bukanlah kezhaliman mayoritas, tetapi tirani minoritas.

Selagi ajaran Islam tegak, maka ummat manusia masih bisa berharap ada perlindungan, ada keselamatan, serta pembelaan atas segala bentuk kezhaliman yang menimpa mereka. Di hari ini banyak manusia-manusia muda berkoar-koar mengecam Syariat Islam; padahal mereka itu semuanya hanyalah sekrup-sekrup industrialisasi. Mereka bisa berkoar-koar demikian karena masih muda, masih fresh, masih bisa diperas tenaga dan kehidupannya, demi ambisi para pengusaha industrialis kapitalistik. Nanti jika mereka sudah mulai udzur, mulai berusia, tidak cantik (tampan) lagi, kulit mulai keriput; siapa yang akan menolong mereka menghadapi mesin-mesin kezhaliman industrialisasi? Apakah mereka bisa berharap kepada elit politik sekuler dan media-media sekuler?

Sebuah contoh mudah. Lihatlah mantan-mantan atlet yang dulu berprestasi mengharumkan nama negara. Setelah mereka tua dan udzur, tidak ada lagi yang peduli. Mereka terlantar, fakir, hingga harus menjual medali demi menyambung kehidupan. Sementara media-media massa berpura-pura peduli, lalu menayangkan keadaan mereka, lalu menyalah-nyalahkan negara yang tidak bisa mengayomi semua itu. Mestinya, media-media sekuler itu menunjuk hidung mereka sendiri, sebelum menunjuk orang lain. Merekalah biang penerlantaran hak-hak kehidupan manusia.

Selagi Syariat Islam masih tegak, manusia masih bisa berharap ada pertolongan, ada perlindungan, dan ada pembelaan dalam menghadapi kezhaliman dan penindasan. Ayat berikut ini merupakan dalil universal, bahwa Syariat Islam sangat menekankan tegaknya prinsip keadilan:

“Dan langit Dia tinggikan, dan Dia letakkan neraca keadilan. Maka janganlah kalian melampaui neraca keadilan itu. Tegakkanlah timbangan secara adil dan janganlah mengurangi timbangan.” (Ar Rahmaan: 7-9).

KETIGA. Syariat Islam merupakan standar nilai kebenaran. Ini adalah perkara yang sangat besar. Di dunia ini banyak bermunculan standar nilai, berdasarkan persepsi masing-masing. Ada yang dibangun berdasar persepsi sains, persepsi tafsiran sejarah, persepsi primordialisme (kesukuan), persepsi nasionalisme, persepsi pemikiran filosof, persepsi rasio murni, persepsi dogma agama, persepsi sihir, persepsi hasrat kebebasan, dan seterusnya. Maka Islam menjadi standar nilai dimana semua tata-nilai yang lain selalu merujuk kepadanya untuk mencari kebenaran.

Manusia di dunia selama ini, termasuk di Indonesia, banyak yang membenci Islam, bersikap anti kepadanya, bahkan secara emosional membencinya. Tetapi kalau mereka jujur, mereka akan menyaksikan bahwa semua produk hukum yang berlaku di muka bumi ini, sedikit atau banyak telah mengadopsi nilai-nilai Islam. Terlepas hal itu akan diakui atau tidak, yang jelas nilai-nilai Islam telah dijadikan standar nilai, hatta oleh manusia yang amat sangat membencinya.

Coba bayangkan, andaikan manusia tidak pernah tahu hukum-hukum seputar pidana, pernikahan, keluarga, warisan, penyelesaian konflik, transaksi ekonomi, hak-hak individu, peradilan, hukum tata-negara, dll. yang selama ini diatur oleh Syariat Islam; kira-kira akan menjadi apa wajah dunia ini? Misalnya, ada selebritis, seniman, presenter berita, penulis, pemikir, dan lainnya yang dikenal sangat anti Islam. Apa yang terjadi jika mereka tidak dilindungi dirinya, kehidupan pribadinya, anak-anaknya, orangtua, dan keluarganya; apakah mereka bisa melancarkan permusuhan kepada Islam, tanpa perlindungan yang mereka terima terhadap hak-hak kehidupan mereka? Sebutlah sosok Ratna Sarumpaet atau Musdah Mulia. Bisakah dua orang ini terus melancarkan permusuhan kepada Islam, jika Syariat Islam tidak melindungi harkat-martabat wanita?

Syariat Islam laksana sinar mentari yang menyinari kehidupan. Dimana Syariat dilaksanakan, disana manusia akan selalu mendapatkan standar nilai yang jelas; terlepas bahwa mereka secara lahiriyah menampakkan kebencian, permusuhan, dan sikap anti-patinya kepada Syariat tersebut. Allah Ta’ala tidak peduli dengan sikap permusuhan mereka, sebab Dia menurunkan Syariat Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam; meskipun orang-orang zhalim membenci, meskipun orang-orang fasik membenci, meskipun orang-orang kafir membenci.

Inilah dalilnya, bahwa Syariat Islam adalah standar nilai dalam kehidupan manusia:

“Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu, maka janganlah engkau termasuk bagian dari orang-orang yang ragu.” (Al Baqarah: 147).

KEEMPAT. Syariat Islam menjaga kelangsungan rizki bagi ummat manusia. Dimana Syariat Islam masih ditegakkan oleh manusia, maka Allah Ta’ala akan senantiasa memberikan rizki bagi manusia. Bahkan keberadaan Syariat Islam itulah yang membuat Allah Ta’ala senantiasa memberikan rizki kepada manusia.

Coba perhatikan dalil berikut:

“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menjadikan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi insan yang bertakwa. Dialah (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap; Dia telah menurunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia mengeluarkan hasil-hasil tanaman, sebagai rizki bagi kalian. Maka janganlah kalian menjadikan bagi Allah tandingan dalam ibadah, jika kalian mengetahui.” (Al Baqarah: 21-22).

Perhatikan ayat ini dengan teliti! Ternyata, perintah untuk beribadah kepada Allah, sangat erat kaitannya dengan rizki yang Allah berikan kepada manusia. Selagi manusia masih beribadah, maka Allah akan menurunkan rizki bagi mereka. Jika manusia berhenti beribadah kepada Allah, maka tidak ada jaminan rizki atas mereka.

Maka orang-orang seperti Goenawan Mohamad, Azyumardi Azra, Syafi’i Ma’arif, Ulil Absar, Dawam Rahardjo; majalah Tempo, harian Kompas, harian Media Indonesia, TVOne; Dewi Persik, Julia Perez, Ahmad Dhani, Ariel Peterpen, dan seterusnya. Mereka ini harus bersyukur dengan adanya manusia-manusia yang masih bersujud kepada Allah; masih Shalat Shubuh saat dingin-dingin pagi hari; masih membaca istighfar dan shalat malam; masih membaca Al Qur’an dan menghafal ayat; masih belajar ilmu dan majlis taklim; serta masih berdemo untuk menunaikan amar makruf nahi munkar. Mereka harus bersyukur dengan semua itu, sebab keberadaan orang-orang yang komitmen beribadah itulah yang membuat mereka masih diberi rizki; sekalipun rizki itu lalu mereka pakai untuk memusuhi dan menciderai kehormatan agama Allah.

Kalau mereka ragu, bahwa rizki Allah sangat terkait dengan Syariat Islam yang masih dijalankan di muka bumi: silakan mereka pergi ke negeri-negeri non Muslim, dan mulailah membangun kehidupan disana! Yakin 100 % bahwa mereka tak akan berani hidup di negeri non Muslim. Hanya di negeri ini mereka masih mendapatkan rizki, meskipun rizki itu kerap mereka jadikan sarana untuk menyakiti hamba-hamba Allah di negeri ini.

Bahkan karena begitu Pemurahnya Allah Ta’ala, Dia memberikan banyak kesempatan, fasilitas, dan perlindungan kepada manusia-manusia mesum untuk bermesum-mesum ria; kepada pemabuk dan junkies untuk bernarkoba ria; kepada para koruptor untuk menjarah harta negara; kepada para politisi busuk untuk menipu rakyat; kepada para kriminal untuk melancarkan aksi-aksinya. Di negeri ini, hingga para penjahat paling keji sekalipun, tetap mendapat rizki dan kenikmatan.

Jika di muka bumi ini sudah tidak ada insan beriman; sudah tidak ada manusia yang beribadah; sudah tidak ada lagi manusia yang komitmen dengan Syariat Islam; tidak ada lagi adzan, istughfar, dan taubat; tidak ada lagi kaum wanita yang menutup aurat dan menjaga kehormatan; maka dengan semua keadaan itu, tidak ada lagi alasan bagi Allah untuk memberi jaminan rizki bagi manusia. Pintu-pintu rizki akan ditutup, keramahan alam akan diangkat, air dari langit akan ditahan, dan seterusnya.

KELIMA. Syariat Islam menyebarkan sifat rahmat (kasih sayang) seluas-luasnya. Inilah ajaran yang sangat menakjubkan, tetapi seringkali diingkari. Syariat Islam mengajarkan agar mengasihi orang sakit, menolong orangtua dan anak-anak yang lemah, menolong orang terluka di jalan raya, melerai manusia yang berkelahi, menyayangi yang muda-belia, menghormati yang tua, memberi kepada yang fakir, membantu yang lemah, menyeka air mata yang bersedih, memuliakan wanita (menghormati kelemahannya, sensitivitasnya, serta memaklumi tabiatnya), menemani yang sendirian, mendukung upaya-upaya kebaikan, melestarikan lingkungan, menyayangi binatang, dan seterusnya.

Sangat sulit mendapati manusia akan melakukan semua dorongan-dorongan kasih-sayang itu secara tulus, ikhlas, tanpa pamrih; jika tidak dilandasi keimanan kepada Allah dan Hari Akhirat. Sebagai contoh mudah, dalam acara Kick Andy di MetroTV, sangat banyak ditemukan disana manusia-manusia berjiwa pahlawan, yang bekerja dalam kesunyian, minim publikasi, dan terus berdedikasi menyebar kebaikan, tanpa pamrih. Mayoritas orang-orang yang berjiwa pahlawan itu ternyata Muslim, memiliki komotmen moral yang baik, dan tulus dalam memberi. (Meskipun kadang ketulusan itu menjadi pudar, setelah mereka masuk acara TV).

Islam mengajarkan semua ini, agar Ummat-nya berbagi kasih sayang secara tulus, sekalipun kepada musuh. Kita masih ingat bagaimana sikap belas-kasih panglima Shalahuddin Al Ayyubi rahimahullah yang mengirimkan dokter pribadi untuk mengobati sakit yang mendera komandan Perang Salib paling kejam, Richard The Lion Heart.

Jika kemudian Syariat Islam diperangi, mencoba diberangus, terus dianiaya dengan pemberitaan-pemberitaan palsu, terus dimarginalkan dan diberikan label-label negatif; hal itu sama saja dengan menumpas sifat-sifat kasih sayang dari kehidupan manusia. Sifat kasih-sayang timbul karena keimanan dan amalan shalih; kedua hal itu muncul karena bimbingan Syariat Islam; jadi kalau Syariat ini hendak dikubur sedalam-dalamnya oleh majalah Tempo, harian Kompas, dan kawan-kawan; ya berarti kalian semua hendak memadamkan cahaya kasih-sayang dari kehidupan manusia.

Dalil atas hal ini sudah sangat dikenal:

“Dan tidaklah Kami mengutusmu -Muhammad Saw- melainkan agar menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (Al Anbiyaa’: 107).

Demikianlah kajian sederhana tentang kebutuhan manusia terhadap Syariat Islam. Poin-poin yang telah disebutkan di atas sangat mendasar, sehingga sangat sulit untuk mengingkari peranan dan manfaatnya dalam kehidupan ini. Intinya, semua manusia membutuhkan keberadaan Syariat Islam; hatta mereka adalah orang sekuler ekstrimis yang sangat anti Islam. Mereka membutuhkan Syariat Islam, karena tidak ada alasan bagi Allah untuk menjamin kehidupan manusia di muka bumi, selain karena keberadaan hamba-hamba-Nya yang beriman, shalih, dan beribadah. Tanpa semua itu, maka dunia ini akan dilipat oleh Allah Ta’ala dan dihancurkan-Nya, sehingga manusia akan binasa sejak awal sampai akhir. Jika tragedi Tsunami pada 26 Desember 2004 lalu saja telah cukup membuat seluruh manusia di dunia ketakutan; bayangkan jika Allah menghancurkan bumi dan seluruh isinya!

Keberadaan hamba-hamba yang Mukmin, shalih, dan istiqamah beribadah kepada Allah, menjadikan bangsa Indonesia masih diberi rizki, diberi kenikmatan, (dan bagi kaum durhaka dan pendosa mereka diberi) kesenangan. Begitu pula, keberadaan kaum Muslimin di negeri-negeri Muslim, mereka menjadi sebab dan alasan mengapa Allah Ta’ala masih memberi rizki bagi penduduk dunia seluruhnya, sejak dari Barat sampai ke Timur, dari Kutub Utara sampai Selatan.

Maka itu, bagi orang-orang anti Islam, bagi kaum pendosa dan durhaka; kami berharap agar mereka bersikaplah sopan, jangan arogan, dan berlebihan. Keberadaan mereka di muka bumi ini -dengan segala rizki dan kesenangan yang mereka dapatkan-; tak lepas dari keberadaan hamba-hamba Allah yang tetap istiqamah di atas Syariat Islam. Semakin sedikit manusia yang shalih dan bersih jiwanya, yakinlah urusan rizki dan kesenangan mereka akan sirna tak berbekas.

Dan risalah ini sekaligus sebagai bentuk salam hormat dan kasih-sayang dari kami untuk sesama kaum Muslimin yang senantiasa istiqamah di atas Syariat Allah Ta’ala. Sebuah pesan besar dari langit untuk Anda sekalian:

“Dan janganlah kalian lemah, dan janganlah kalian bersedih, karena kalian adalah yang paling tinggi, selagi kalian beriman (kepada Allah dan Rasul-Nya).” [Ali Imran: 139].

Akhirul kalam, Rabbighfirli wa li walidaiya warhamhuma kamaa rabbayani shaghira, amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Selengkapnya...

Santun, ramah, dan tidak pernah merusak lingkungan… mendengar kata-kata seperti itu yang disematkan pada seseorang, tentu kita semua akan cekat menyanggah jika ada yang mempertanyakan keabsahan kebaikannya, “Baik, kok bisa-bisanya Anda sesatkan…?” Karena alasan seperti itu pula lah sebagian diantara kita dengan tanpa mempertimbangkan kesempurnaan syari’at Islam memutuskan untuk memberi penghargaan setinggi langit kepada sosok penjaga merapi yang terkenal itu, “Mbah Marijan”. Tanpa pernah mencoba mengerti akan arti dibalik sujud saat kematiannya, tanpa pernah menilik atas laku-laku “ritual anehnya”, dan tanpa pernah menggali lebih dalam tentang arti abdi dalem itu sendiri, kita semua lantang meneriakkan, “Dialah sosok pejuang sejati, setia mengabdi sampai mati…”
Ya, ketika kebaikan dan keburukan hanya terukur oleh lintasan akal, maka kebaikan dan keburukan itu pun menjadi suatu yang bias, tersamarkan, bahkan cenderung mudah dimanipulasi. Karena, semua orang tentu akan mudah berkata, “ini kan baik menurut saya…” Dan sang manipulator akan lebih canggih mempresentasikan hasil racikan akalnya, “Ini kan seni dan tidak melanggar hak asasi manusia…”
Ya, “ini kan baik menurut saya…” memang bisa benar seperti itu, tapi tidak seharusnya kita lupa untuk membubuhkan kalimat tanya setelahnya, “namun, bagaimana dengan orang lain…?” karena kita hidup tak sendiri, bukan? Dan karena orang lain, belum tentu setingkat pengolahan akalnya dengan kita, bukan? Atau, dan bahkan kalau mau selaras dengan identitas Islam yang tertera di KTP kita, kalimat tanya berikut seharusnya lebih tepat untuk kita persuntingkan, “namun, bagaimana dengan Alloh …?”

“Tetapi, boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagi kalian. Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (QS. al-Baqorah[2]: 216)
Alloh Yang Maha Tahu, Alloh Yang Maha Adil, semoga kita senantiasa berada dalam penjagaan-Nya…

Dan inilah KEJAWEN yang sebenarnya menjadi penggerak dari setiap laku seorang Mbah Marijan dan juga orang-orang yang seiman dengannya. Kejawen yang asalnya bermuara dari pengalaman hidup orang Jawa yang sebagian besar merupakan hasil interaksi dan observasi orang Jawa dengan alam semesta dan ditambah juga dengan adanya leburan falsafah-falsafah lainnya yang menyambangi ranah jawa pada akhirnya menjadi satu ajaran batin yang turun temurun diwariskan hingga saat ini. Walaupun ada fakta lain yang berbisik, yang menurutnya bahwa sebenarnya kejawen lahir di keraton, sengaja dibuat oleh sang raja yang duduk di singgasana untuk melestarikan otoritas kerajaannya. Maka dibuatlah simbol-simbol budaya bernuansa mistis yang kemudian dikenal dengan istilah kejawen ini.
Bagaimana pun sejarahnya, yang jelas ajaran ini bukanlah berasal dari Islam, meskipun seringkali dilekatkan kata Islam di depannya. Bolehlah kita menilai 9 atau 10 atas dzohir keramahan, kesantunan, kewelas asihannya terhadap sesama manusia, dengan tanpa harus kita pertanyakan terlebih dahulu untuk siapa semua amal tersebut, namun bagaimana dengan contoh fakta lainnya berikut ini yang sering diklaim sebagai ritual kejawen: Garebeg, Sekaten, Malam satu syuro, dan lainnya. Di mana di setiap ritual itu, mesti saja ditampilkan hal-hal yang mistik , atau penyucian benda-benda yang dianggap keramat yang sama sekali tidak pernah dikenal dalam sejarah Islam, bahkan justru dilarang.
Ah, kalau saja dahulu Rasulullah mengajarkan hal seperti itu, atau menawarkan ritual seperti itu kepada Abu Jahal, mungkinlah ia akan menyambutnya dengan wajah bercerahan, “Aha, ini baru yang gua suka…”
Maka, menjadi salah besar jika ada yang menggebyah uyah bahwa kejawen adalah Islam dan Islam adalah kejawen.
Bagaimana mungkin kejawen adalah Islam, sementara tertanam dalam jiwa pemeluknya, bahwa ada penguasa lain selain Allah di dunia ini. Seperti halnya gunung merapi yang diyakini memiliki penguasa yang bernama Mbah Petruk. Hingga drama gunung merapi yang sampai menewaskan beberapa orang yang tidak ikut lari itu pun adalah akibat ulah mereka mempertahankan keyakinan yang meyakini bahwa sang penguasa gunung pasti akan menyelematkan mereka. Tersebutlah kemudian sang abdi dalem kuncen merapi itu mati dalam sujud…, sujud menghadap gunung.
Setan. Ia lah yang sangat kita yakini menjadi kreator di balik semua ajaran ini. Betapapun indahnya ajaran ini yang dibungkus tebal-tebal dengan prinsip keseimbangan hidup yang mengharuskan manusia berlaku ramah dan welas asih terhadap sesama manusia dan bahkan lingkungan, namun bau busuk setan tetaplah begitu tercium menyengat dari dalam.
Inilah SETAN yang telah menyuntikkan DNA sinkritesme dalam tubuh KEJAWEN. Maka, syari’at-syari’atnya pun menjadi ala setan. Kesaksian terhadap Sapu Jagat, Petruk, Nyi Roro Kidul adalah bagian syahadatnya, sujud terhadap kerbau bule adalah sholatnya dan jiarah ke makam-makam para wali adalah hajinya.
Inilah SETAN yang telah memberi wahyu pada para pemeluk Kejawen untuk tidak perlu menjalankan sholat lima waktu sesuai syari’at Alloh , namun cukup dengan eling, sadar, yakin bahwa manusia bisa melebur dengan Alloh . Manunggaling kawula gusti. Cukup.
La haula wa la quwwata illa billah…
Sungguh, terlalu suci jika kata Islam harus disandingkan dengan kejawen. Namun begitulah setan, usahanya telah berhasil membuat manusia tidak lagi peka terhadap bau yang menyengat itu. Bahkan permasalahannya, sebenarnya bukan hanya soal peka atau tidak peka terhadap kebusukan ini, tetapi sesungguhnyalah kejawen ini telah menjadi senjata yang dipergunakan setan untuk menghancurkan Islam itu sendiri.
Maka, inilah setan. Mengemudi di atas pundak tunggangan yang bernama kejawen. Dzohir yang baik, santun, ramah, bahkan tidak hanya terhadap sesama manusia, namun juga terhadap alam sering ditafsirkan oleh akal sebagai sebuah kebaikan yang pasti diridhai tuhan. Al-Hasil, semua mata terpana, tersihir dengan tunggangan setan tersebut, dan bahkan menentang balik ketika ada yang berusaha memurnikannya. Begitulah setan, ia tak hanya menyebarkan kalimat kekufuran melalui personal orang per orang, membisikkan kata-kata, hingga menjadikan orang itu meyakini bahwa ada kekuatan lain di balik sebongkah pohon yang telah mengakar bumi ratusan tahun. Namun, ia juga dengan tahap mentahap, tahun menahun mampu membuat jaringan sindikat terorganisir yang dibungkus dengan aneka hal yang menarik hati, sehingga terjaringlah orang-orang yang bodoh terhadap syari’at Alloh . Dan memang, sindikat semacam ini sebenarnya telah lama dijalankan oleh setan, semenjak jaman Nuh hingga saat ini, yang telah mengkali lipat jumlahnya dan yang seterusnya menjelma menjadi musuh Islam yang nyata.
Inilah Mbah Maridjan, Keraton dan Kejawen dengan laku-laku ritual ala Setannya, maka, jika dikatakan bahwa kejawen adalah Mbah Marijan dan Mbah Marijan adalah kejawen, bolehlah itu kita terima. Tetapi maaf, jika dikatan Kejawen adalah Islam, atau minimalnya bagian dari Islam, meskipun peci hitam selalu melekat di atas kepala, meskipun ramah-tamah membuat hati tertambat suka, namun sungguhlah itu belum cukup untuk membuat deklarasi berikut terhenti terucap untuk menjadi penutup kesepakatan antara kita dan mereka:
Hai... Ahli Kejawen..!!
Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah...
Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah...
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah...
Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah...
Untuk kalian agama kalian, dan untukkulah, agamaku...

Selengkapnya...

"Bagi NU mau ada seribu Lady Gaga enggak akan mengubah keimanan orang NU,”

Hahaha... kita pun tertawa mendengar pernyataan ketua PBNU Said Agil Siraj yang penuh kedegilan tersebut. Entah sudah yang keberapa saya mendengar pernyataan-pernyataan nyeleneh yang dilontarkan oleh tokoh yang membelot dari peneliti sunnah dan kini menjadi pejuang Syi'ah itu pada akhir-akhir ini. Mungkin akan menjadi suatu tradisi jika pimpinan NU senang menelurkan pernyataan-pernyataan kontroversial sebagaimana Gus Dur, pemimpin NU sebelumnya. Tapi tentu saya tidak berharap seperti itu, bahkan saya berharap, suatu hari akan lahir tokoh2 NU yang berkarakter kuat memegang sunnah Rosul saw.

Nah, karena sudah terlalu banyak yang dilontarkan oleh pemimpin baru NU itu, bagi saya, ya sudahlah, biarkan ia berkicau terus dengan hobinya tersebut, biarkanlah urusannya kita serahkan kepada Alloh, karena bagi saya, yang menjadi persoalan adalah pada diri kita masing-masing.

Bagi kita, komentar dari tokoh di atas mungkin terasa menggelikan, apalagi jika dilontarkan oleh seorang yang telah mengunyah-ngunyah pendidikan S1, S2 & S3 nya di Saudi, tentu sangat tidak masuk akal. Tetapi itulah, hidayah memang bukan milik Saudi, Namun milik Alloh swt. Tetapi sekali lagi, masalahnya bukan itu, tetapi masalahnya ada pada diri kita. Seringkali kita lupa dan tanpa sadar bahwa kita sendiri ternyata telah menjadi contoh dari pernyataan di atas. Mental kita tak jauh dari mental sang tokoh nyeleneh di atas.

Betapa tidak? Seringkali di sela-sela waktu, dengan bersimpuh manis sambil menghadap ke arah kotak ajaib yang mempertontonkan aktor dan aktris tak Islami dan kebanyakanyan berpakaian seronok itu, pada hakikatnya dengan tanpa malu kita telah mempertontonkan kepada Alloh Yang Maha Menyaksikan, pada malaikat yang mencatat segala amalan dan kepada setan yang tertawa menyaksikan kedunguan, bahwa mental kita, tak jauh berbeda dengan sang tokoh tersebut, bahwa pernyataan tak tergoyahkan iman walau dengan 1000 Lady Gaga ternyata telah mengejewantah di rumah-rumah kita sendiri

Kita selalu merasa "ah hanya sinetron", "ah hanya untuk hiburan", "ah cuma sebentar saja paling tidak dosa", "ah... ah... ah..." Ya mungkin setelah sampai pada "ah" yang ke 100 atau ke 1000, baru kita akan mengatakan, "ah, cuma Lady Gaga"....

Selengkapnya...

Ketika Raja Faisal menghentikan pasokan minyak dan mengembargo barat pada Oktober 1973, lahirlah perkataan yang terkenal dan mengguncang dunia itu, “Kita dan pendahulu kita pernah hidup dan selamat dengan hanya mengandalkan kurma dan susu, maka kita akan kembali seperti dulu dan pasti akan tetap bisa hidup.”

Pada hari itu juga, Henry Kissinger –Menteri Luar Negeri AS– langsung mengunjungi Raja Faisal. Tujuannya hanya satu: berusaha menego agar Raja Faisal mau menarik keputusannya. Henry Kissinger menceritakan dalam catatannya, bahwa ketika dia menemui Raja Faisal di Jeddah, kondisinya tampak seperti dalam keadaan bersedih, dia pun membuat "lelucon" dan mengatakan kepada Raja Faisal, “Pesawat saya sedang kehabisan bahan bakar, jadi mungkinkah yang mulia memberikan perintah untuk memenuhinya dengan bahan bakar dan kami siap membayarnya dengan harga international?”

Hehehe... kalau ada presiden yang gila harta ditawari "lelucon" seperti itu, sangat mungkin jawabannya, "Oh begitu, Anda kehabisa bahan bakar ya, bolehlah nanti saya isikan, asalkan janji ya, bayarnya dobel..." Tapi, tidak dengan Raja Saudi yang satu ini. Sediktipun beliau tidak tertarik dengan "lelucon murahan" Kisinger tersebut, ada hal yang lebih beliau inginkan dari sekedar uang semata yang tak bisa dibawa ketika raga sudah tak bernyawa. Apa? Jawabannya masih dalam catatan Kissinger tersebut, Kisingger menceritakan, setelah mendengar "lelucon" tersebut, tidak secuil pun senyuman yang lahir dari wajah Raja Faisal, dan malah mengangkat kepala sambil menatap wajahnya dengan dingin dan berkata kepada dirinya , “Saya adalah seorang lelaki tua yang bercita-cita bisa beribadah di al-Aqsa sebelum saya meninggal, jadi, maukah Anda membantu mewujudkan cita-cita saya tersebut...?

Selengkapnya...

Gus Dur, siapa yang tak kenal dengan nama ini. Sosok yang bernama asli Abdurrahman Wahid ini adalah seorang yang pernah menduduki orang nomor satu di Indonesia, alias pernah menjadi presiden RI yang ke-4.

Namun, bukan hanya karena dia seorang presiden yang membuat Gus Dur menjadi sosok “fenomenal” di bumi Indonesia ini, terkhusus di kalangan umat Islam, tetapi karena aksi-aksi serta lontaran-lontaran nyelenehnya lah yang terkadang membuat orang-orang menggeleng-geleng kepala tak habis pikir. Dari yang biasa sampai yang bernada kufur telah menjadi bagian dari kenyelenehan dirinya.

Seperti apa?
Ya, beberapa diantaranya dia pernah melontarkan saran agar Indonesia mengakui Israel, Teman-teman tahu kan siapa Israel? Ya, negara penjajah Palestina, yang telah membunuh jutaan kaum Muslimin di sana dengan kejamnya. Dan dia juga mengatakan bahwa Israel berperang dengan akal, sedang HAMAS berperang dengan nafsu. Pernyataan itu disampaikan Gus Dur dalam lawatan ke AS untuk menerima penghargaan sebuah LSM Yahudi yang sangat Zionistik, Simon Wiesenthal Center.

Pernyataan seperti di atas, mungkin bisa kita kategorikan masih “biasa” jika dibandingkan dengan pernyataan dia tentang ketidakkafiran Yahudi dan Kristen. Menurut dia, seperti yang pernah dikutip dari wawancara kajian Islam Utan Kayu di radio 68H Jakarta, bahwa “Menurut al-Qur’an, orang Kristen dan Yahudi itu bukan kafir, tapi digolongkan sebagai ahlul kitab. Yang dibilang kafir oleh al-Qur’an adalah ”orang-orang musyrik Mekkah, orang yang syirik, politeis Mekkah”. Sementara di dalam fikih, orang yang tidak beragama Islam itu juga disebut kafir. Itu kan beda lagi. Jadi, kita jelaskan dulu, istilah mana yang kita pakai.”

Ketika marak penghinaan terhadap Rosululloh dengan karikaturnya, Gus Dur adalah orang yang termasuk bereaksi cepat, namun bukan pernyataan pembelaan terhadap kehormatan Rasulullah, tetapi dia justru malah lebih memilih mendiamkan dan menganggap sebagai persoalan biasa saja.

Ketika menjabat sebagai Presiden, dia mengeluarkan anjuran untuk merayakan Natalan bersama. Kemudian juga dia menetapkan hari raya imlek umat Kong Hu Cu. Dan setelah itu, atas dukungannya, marak bermunculan praktik ibadah do’a bersama.

Selepas diturunkan paksa dari kursi presiden, ternyata tidak menyurutkan lisannya untuk mengeluarkan hal-hal yang kontroversial, bahkan kala itu sudah membuat sakit hati umat Islam. Dia mengatakan bahwa al-Qur’an adalah kitab paling porno.

Kontroversi “Al-Qur’an porno” ini bermula ketika dalam sebuah wawancara yang direlease dalam situs Islam Liberal, dengan beraninya Gus Dur menghina al-Qur‘an sebagai kitab suci terporno di dunia. “Sebaliknya menurut saya. Kitab suci yang paling porno di dunia adalah al-Qur’an, ha-ha-ha...” katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Selain itu, pembelaan terhadap Ahmadiyah atau ajaran-ajaran lainnya yang jelas-jelas telah menghina Islam juga termasuk pernyataan kontroversial yang dia lontarkan.
Tidak cukup hanya di ranah pernyataan-pernyataan kontroversial, aksi-aksinya pun banyak yang mengundang tanda tanya. Seperti aksi cium medali Yahudi yang dilakukan pada acara penghargaan sebuah LSM Yahudi yang sangat Zionistik, Simon Wiesenthal Center seperti yang kita sebutkan di atas.

Dan masih banyak sebenarnya aksi-aksi lainnya yang tidak dapat kita sebutkan satu persatu di tempat yang terbatas ini. Mungkin satu yang paling menghebohkan dan mengundang banyak tanda tanya, adalah ketika secara mengjutkan, Gus Dur hadir dalam acara umat Kristen di Istora Senayan, Jakarta.

Menjelang disahkannya RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pada tanggal 12-16 Mei 2003 umat Kristiani mengadakan National Prayer Conference (NPC) dengan tema “Indonesiaku, Kesatuan Umat Menuju Transformasi Bangsa” di Istora Senayan, Jakarta. Salah satu pembicara dalam acara tersebut adalah Gus Dur, bekas presiden RI. Rekaman pidato Gus Dur dalam acara tersebut beredar luas ke masyarakat dan menghebohkan media. Melalui VCD yang mungkin sebagian kita sudah melihatnya tergambarkan adegan nyeleneh sebagai berikut:

Seperti kebiasaan dan ciri khasnya, di tengah pertarungan aspirasi umat Islam dan Kristiani soal pro-kontra RUU Sisdiknas, Gus Dur dalam pidatonya mendukung aspirasi Kristen. Saat dukungan itu terlontar dari mulut Gus Dur, seluruh jemaat Kristiani serempak bertepuk tangan riuh memberikan aplaus dengan wajah-wajah penuh suka cita.
Kurang jelas di mana posisi i'tiqad Gus Dur pada malam itu, karena dia memakai kata ganti (pronomina) “kita” untuk menyebut dirinya dan jemaat Kristen yang hadir. Sedangkan untuk umat Islam yang memperjuangkan RUU Sisdiknas (yang tidak hadir dalam acara), Gus Dur memakai kata ganti “mereka.” Dan Gus Dur menilai umat Islam sebagai orang yang "belum mengerti" dan berada di "jalan yang salah" sehingga harus didoakan supaya kembali ke jalan yang benar.

Usai memberikan pidato, moderator minta izin kepada Gus Dur untuk mendoakannya (tentunya doa kristiani dalam nama Yesus). Gus Dur menjawab dengan anggukan kepala tanda bahwa dia setuju. Lalu, dengan penuh semangat, MC mengatakan bahwa lebih dari sepuluh ribu pendeta, hamba Tuhan dan umat Kristiani akan berdoa memberkati Gus Dur sebagai “Bapak Bangsa.”

Pendeta Sudi Darma kemudian memulai memimpin doa dengan mengangkat tangannya ke atas kepala Gus Dur seolah memberikan berkat dan kekuatan kepada Gus Dur. Seluruh Jemaat pun mengiringi doa dengan berdiri sambil mengangkat tangan kanan dan mengarahkan telapak kanan ke arah Gus Dur, seolah-olah sedang memberikan suatu mukjizat kepada Gus Dur. Pendeta Sudidarma pun memberkati Gus Dur dalam nama Yesus.

Semua aksi serta lontaran-lontarannya tersebut tentu tidak sekedar keluar sebagai wacana semata, tetapi memang murni lahir dari ideologi yang hendak ditularkan pada yang lain, terkhusus umat Islam di Indonesia ini. Jika kenyelenehan yang ingin ditularkan hanya pada masalah-masalah kecil dan umum, tentu tidak terlalu masalah, tetapi masalahnya ini sudah menyangkut akidah atau keyakinan umat Islam. Tentang kafir atau tidaknya Yahudi dan Nashroni, tentang al-Qur’an kitab paling porno sedunia, tentang mengagungkan simbol agama lain, tentang keridhoan dido’akan oleh penganut agama lain, dan tentang-tentang kenyelenehan yang bersinggungan dengan kekufuran lainnya.

Seperti tentang kafir atau tidaknya Yahudi dan Nashroni. Aneh sekali, bagaimana mungkin kafir atau tidak kafir masuk ranah fiqih. Padahal ini soal aqidah. Sepertinya Gus Dur lupa dengan beberapa ayat al-Qur’an seperti, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Alloh ialah al-Masih putera Maryam.” (QS. al-Maidah: 72)

Kalau soal kepornoan al-Qur’an, ini jelas sudah tidak perlu dipertanyakan lagi bentuk pengistihzaannya terhadap Kalamullah. Padahal telah jelas bagaimana hukum istihza itu.

Dari sini, kita bisa melihat, bahwa sebenarnya, semua yang telah ditelurkan oleh Gus Dur tersebut tidak terlepas dari pemikiran pluralime dan liberal. Sehingga wajar, jika saat ini, dia mendapat gelar Bapak Pluralisme. Suatu kebanggaan semasa hidup yang KINI pasti DISESALI.

Wahid Institut
Nah, lantas sekarang apa hubungannya antara Gus Dur dengan Wahid Institut? Tentu kita sudah dapat menebaknya!! Karena dari namanya saja sudah tampak hubungannya. Ya... Wahid Institut adalah sebuah lembaga yang didirikan oleh Gus Dur semasa hidupnya yang saat ini dikepalai oleh anak perempuannya sendiri, Yenni Zannuba Wahid.

Sebenarnya, yang lebih ingin kita bahas pada tulisan ini adalah tentang lembaga yang berdiri sejak tahun 2004 ini. Namun karena kurangnya referensi yang menyebutkan tentang sepak terjang lembaga ini, maka yang kita bahas adalah tentang sang maestronya, sebab sepertinya sama saja, karena apa yang hendak dicapai oleh lembaga ini, tiada lain dan tiada bukan adalah untuk meneruskan pemikiran-pemikiran yang telah digelontorkan oleh sang maestro tersebut.

Dan sebenarnya, lembaga ini tidak berbeda jauh dengan lembaga-lembaga liberal lainnya, tapi mungkin begini, lembaga ini adalah lembaga yang didirikan oleh seseorang yang lahir dari tokoh yang sangat dihormati, pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, sehingga dampaknya, dia kecipratan “kehormatan” yang hampir sama dengan ayahnya. Mungkin di sinilah alasan kenapa banyak orang-orang atau bahkan para ulama Indonesia sendiri yang tidak terlalu “menghebohkan” di kala pendiri lembaga wahid institut ini membuat lontaran atau aksi yang nyeleneh, karena mereka masih segan atas “kebesarannya”.

Nah di sinilah permasalahannya, ketika Wahid Institut ini didirikan oleh Gus Dur dendiri dan namanya pun dibuat sama persis dengan namanya, maka dampaknya, lembaga ini pun sedikitnya masih kebagian jatah “penghormatan” dari sebagian umum masyarakat kita, yang notabene mereka masih memiliki tradisi pengkultusan terhadap tokoh besar. Maka, jadilah lembaga ini berada di tingkatan yang lebih berbahaya dibandingkan lembaga-lembaga liberal lainnya. Ini yang harus kita waspadai..!!
WAllahu a’lam.

Selengkapnya...

Manchester United berlogokan setan, Inter Milan berlogokan salib, begitupun dengan AC milan, Barca, Brazil, Real Madrid, dan masih banyak lainnya dari logo2 kekufuran... Sebagai seorang yang mengerti dengan konsekwensi tauhid, seharusnya kita sensitif terhadap fenomena seperti ini, tapi kenapa banyak di antara kita yang seperti tidak merasa ada apa2?
Kita mungkin bisa mengatakan tidak meridhoinya, namun sebenarnya, tidak ada alasan untuk memakai pakaian seperti itu karena itu berarti, sebagai seorang Muslim, kita telah meridhoi dan memuja simbol agama lain, dan itu bisa berakibat fatal jadinya.

Selengkapnya...

Yang kaya makin kaya, yang miskin tambah sengsara... kiranya, filosofi ini benar-benar telah melekat menjadi darah dan daging di tubuh bangsa kita ini... Ketidakpedulian terhadap nasib saudaranya begitu terasa menyengat... hihihihi... tawon kali menyengat... Bayangkan, hanya dalam 1 malam, uang sebesar 4 miliyar habis hanya sekedar untuk acara pesta pernikahan yang baru saja dilangsungkan oleh salah seorang artis muslim di negeri kita. Itu baru acara pernikahannya, belum ininya, belum itunya... Wah, gak kebayang deh, soalnya, jangankan yang segitu, yang “Nol (0) nya di atas enam” aja belum pernah megang...
Hihihi... kasihan deh loe... kismiiiin...
Whahahahaha... ga apa-apa, biar kismin asal setiap hari masih bisa makan nasi sama sambel terasi (yang aduhai) buatan yayangku..., itu saja sudah cukup...

Nah menurut beritanya, acara itu juga banyak dihadiri oleh para pejabat tingkat tinggi... Ckckck... Saya membayangkan, jika para pejabat itu dikunjungi oleh para demonstran (rakyat mereka sendiri) untuk diajak dialog bersama (yang juga pernah saya alamin), pasti susahnya minta ampun, boro-boro bertatap muka, mendengar sepetak-dua petak kata-katanya saja seperti menggali sumur di padang pasir. Mungkin para demonstran di negeri ini harus lebih “pandai” lagi, seperti artis itu, jika ingin mengundang pejabat untuk berdialog, cobalah adakan acara yang spektakuler, yang bombastis. Sekarang memang bukan lagi jamannya tikus senang keju, tapi... duit... “money.. money.. money..” hehehehe... gimana mau dicoba ga?
Hus..!! kok jadi ke sana sih... wong lagi bahas tentang 4 milyar itu... Oh iya... maksudnya sih, sambil menyelam minum air gitu loh..!!
Oke... jadi begini..., dalam Islam, yaitu di agama kita, yang juga agama ke dua artis tersebut, jelas tidak ada sejarahnya Rosululloh saw dan para sahabatnya mencontohkan perbuatan seperti itu... justru mereka mencontohkan bagaimana hidup sederhana, walaupun dalam kenyataannya, mereka adalah orang-orang kaya. Sangat kaya sekali, bahkan jika dibandingkan dengan artis yang kita jadikan sebagai contoh di atas, tidak ada apa-apanya. Coba saja kita hitung, dari 4 orang sahabat yang terkenal, yang kemudian hari mereka menjadi Khulafaurrasyidin, hanya Ali bin Abi Tholib yang terkenal miskin..., dan coba lihat 3 orang selainnya..., Abu Bakar, Umar, Utsman, mereka para Milyarder kelas kakap, top markotop, dan super duper maknyos..., tidak ada yang meragukannya.
Abu Bakar Ash-Shiddiq, apa sih yang beliau tidak punya dari harta kekayaan dunia. Beliau seorang saudagar besar yang kalau mau menumpuk kekayaan, tidak akan habis dimakan tujuh turunan. Tetapi seluruh harta yang beliau miliki diinfaqkan ke baitul muslimin. Ketika ditanya apa yang disisakan untuk anak dan isteri, beliau hanya menjawab bahwa untuk anak dan isteri adalah Allah swt. Subhanallah!
Umar bin Khattab, beliau adalah seorang yang pernah mendapatkan hak eksklusif atas perkebunan kurma di Khaibar. Kalau dinilai nominal, maka hak itu akan membuatnya sangat kayaraya dan bisa membangun istana termegah di muka bumi dengan biaya pribadi, tetapi beliau justru mewakafkannya di jalan Allah swt.
Belum lagi Utsman bin Affan, ah... melihat infaq-infaq yang pernah beliau keluarkan untuk perjuangan Islam selama hidupnya yang jumlahnya WAH bin AJIB, tentu tak akan membuat sejarah salah menulis bahwa beliau adalah seorang yang kere.
Dan bahkan Rosululloh..!! Rosululloh..?? Ya.. Rosululloh saw..!! Kalian pikir beliau siapa..?? Orang miskin..?? Ya iya lah..., emangnya Agan belum pernah denger kalau di rumah beliau jarang ditemukan satupun makanan dan hidup beralaskan tikar kasar..!! Apalagi coba kalau bukan disebut miskin..?? Hahahaha... Bro and sis... cobalah kalau kita melihat sejarah, membaca atau mendengarkannya itu lebih teliti lagi, lebih cerdas, lebih cermat, lebih hemat pangkal kaya dan rajin pangkal pandai... Wong beliau adalah orang yang paling kaya di antara para sahabatnya..!! Masa sih..??
Coba bayangkan.... Rasulullah saw itu sudah mengenal uang ketika umurnya baru menginjak usia 8 tahun, beliau mulai bekerja dan mendapatkan gaji. Pekerjaan pertamanya menggembala kambing. Umur 12 tahun beliau saw sudah pulang pergi ke luar negeri ikut dalam bisnis keluarga. Umur 15 sampai 19 tahun ikut dalam perang sehingga punya pengalaman mlliter. Umur 20 tahun beliau saw sudah menjadi pengusaha yang investornya adalah Khadijah. Sewaktu berumur 25 tahun, beliau menikah dengan investornya. Berapa maharnya? Seratus ekor unta. Bila kita kira-kira dan tanyakan, berapa harga satu ekor unta sekarang? Jauh lebih mahal dari 1 ekor sapi. Kira-kira 10 juta per 1 ekor unta, jadi totalnya berapa? Segini nih: 1.000.000.000 atau ringkasnya = RP. 1 Milyar. Subhanalloh. Ada yang pernah ngliat uang segitu ga?
Namun setelah beliau saw diangkat menjadi Nabi, profesi berdagang beliau saw tinggalkan. Akan tetapi, apakah lantas menjadikan beliau saw jatuh miskin? Tidak, justru saat itulah beliau menjadi orang terkaya. Darimana pemasukan beliau saw? Pemasukan beliau adalah dari ghanimah (harta rampasan perang), di mana oleh Allah swt, beliau diberikan hak istimewa atas setiap harta rampasan perang. Bila suatu kota atau negeri ditaklukkan oleh kaum muslimin, maka beliau punya hak 20% dari rampasan perang. Hak ini menjadikan Rasulullah saw sebagai orang dengan penghasilan terbesar di Madinah. Rampasan perang itu bukan harta yang sedikit, sebab terkait dengan semua aset-aset yang ada di negeri yang ditaklukkan.
"Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kalian peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS Al-Anfal: 41)
Namun semua hak yang beliau terima itu tidak menjadikan beliau saw hidup di istana megah, atau mengoleksi semua baju termahal dunia, atau makan makanan terlezat di dunia. Semua tidak terjadi pada beliau, sebab semua harta yang beliau dapatkan hanya beliau kembalikan lagi buat para fakir miskin dan orang-orang tak punya yang membutuhkan.
Kehidupan pribadi beliau sendiri terlalu bersahaja seperti yang tadi sudah temen-temen sangka, tidur hanya beralas tikar kasar yang kalau beliau bangun, maka masih tersisa bekas cekatannya di kulit beliau. Bahkan pernah 3 bulan dapur rumah beliau tidak mengepulkan asap.
Umar bin Khattab suatu hari pernah mengunjungi rumah beliau saw, sedang saat itu, beliau saw sedang berbaring miring di atas tikar pandan kecil yang bersulam, dan di bawah kepalanya bantal dari kulit berisikan rumput kering. Tak kuasa melihat keadaan yang dialami oleh seorang Rasul yang mulia seperti itu, Umar pun menangis. Ada apa engkau menangis wahai Umar? Tanya Rasulullah saw.
Umar menjawab, "Demi Allah, saya tidak menangis kecuali tahu bahwa engkau lebih Allah muliakan daripada Kisra dan Qaishr. Mereka hidup dalam kesenangan, sementara engkau, Rasulullah saw, di tempat yang saya lihat?"
Rasulullah saw bersabda, "Apakah engkau tidak rela dunia menjadi milik mereka dan akhirat untuk kita?"
Umar menjawab, "Ya, aku rela."
Rasulullah saw bersabda, "Begitulah yang benar"
...spechles...
Kehidupan Rosululloh saw yang begitu sederhana walau memiliki segala-galanya itu pun kemudian diikuti oleh para sahabatnya. Kedermawanan mereka, kepedulian mereka terhadap sesama, infaq-infaq mereka yang luar biasa fi sabilillah, lebih banyak dan lebih sering kita dengar tiada taranya... Namun sayangnya, kita ternyata hanya senang mendengar saja, dan hampir menghabiskan seluruh kehidupan kita seperti layaknya artis-artis itu.... Yah karena mungkin, kita telah beralih pada tauladan yang baru.... Wal’iyadzubillah.

Selengkapnya...

Pernah tidak Anda dikerjai oleh teman Anda melalui sms, sehingga membuat Anda yang pada awalnya panik, namun pada akhirnya, setelah mengetahui bahwa itu hanya lelucon, Anda tertawa terpingkal-pingkal, terguling-guling, dan tak kuasa membendung air mata...? hehehehe... ga segitunya kali... Ya cuma lucu juga kan rasanya? Nah berikut SMS iseng dari beberapa teman saya yang kemudian coba saya kumpulkan di sini, sebagiannya mungkin sudah Anda dapatkan, dan dengan sangat senang hati akan saya sambut jika Anda mau menyumbangkan SMS lainnya:

Berita DUKA: Telah meninggal dunia dgn tenang saudara kita seiman di RS Trimitra siang ini jam: 12:00 wib. Jenazah disemayamkan di rumah DUKA, DUKA Salah...DUKA bener, DUKA awewe...DUKA lalaki, DUKA heureuy..DUKA heunteu, pokokna mah.. DUKA teuing..!! Namina ge Brita DUKA ?? Serius amet bacana..!!

Waspada peredaran uang plsu di skitar Anda. Sbarkan tips ini utk mncegah pnipuan.. Tips mngecek keaslian uang : - Uang sribu: Lipat jdi 4 bgian, tkan skuatnya, trz buka lpatannya! Jka pdang Patimura bngkok, brarti palsu.. - Uang 5 rb: gesek uang dg sisir! Jka jnggot Imam Bonjol rontok brarti plsu.. - Uang 10, 20, 50, n 100 rb: letakkan di dpan rmah! Jka hilang, brarti asli.. Slamat mencoba..!!

Mulai skarang, tdk usah lg tlpon, sms, miscall sy. Anggap sj kita tdk prnah kenal. Sya kecwa skali dg kamu! Slama ini sya anggap kmu saudara yg baik dan jujur. Sy minta jg pura2 tdk tahu. Jadi kalo kamu masih anggap sy saudara, TOLONG, sy minta kamu JUJUR... Dimana kamu simpan uang2 yg di TRANSFER GAYUS TAMBUNAN... hehehe... tegang amet bacanya..!!

Ass. Mngkin nie SMSku yg trakhir... Maaf atas smua kslahanku. Stiap prtemuan pasti ada prpisahan.. Doakan aku dbri kbrhasilan dan kekuatan... Aku ingin crita, tp aku ykin, kmu tdk akan prcaya... ukirlah namaku slalu d htimu sbg saudara & shabat. Slamat tinggal.. Aku hrus prgi k Malysia bsok tuk bantuin Upin & Ipin nyri harta karun! hihihi... Srius amet bacanya..!!

Selengkapnya...

KUMPULAN RESEP MASAKAN BENERAN NO.1

Yang suka masak-masak, monggo disedot kumpulan resepnya yang berasal dari kokinya para koki... hehehehehe (lebay)...

KUMPULAN RESEP MASAKAN BENERAN No.1

Selengkapnya...

Baru tahu, ternyata di salah satu statiun televisi menayangkan cuplikan adzan yang disertai kata-kata renungan tentang fenomena perbedaan waktu antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, sehingga adzan telah dikumandang dari beribu surau, beribu masjid tanpa jeda, berikut renungannya yang bisa saya ambil dari cuplikan tersebut:

Sebelum adzan Subuh sempat berkumandang di wilayah terbarat benua Afrika, adzan Dzuhur pun siap berkumandang menjelajah belahan dunia lainnya.

Sementara kumandang adzan Dzuhur belum sempat terdengar kembali di bagian timur Indonesia, adzan Ashar telah siap menjelajah bagian dunia lainnya.

Saat gema adzan Ashar belum selesai, adzan Maghrib telah merambah bumi ini.

Selang beberapa saat adzan Isya’ pun siap melanjutkan.

Ketika gema adzan Isya’ belum selesai di benua Amerika, adzan Subuh sudah kembali terdengar di sebagian wilayah Indonesia.

Seiring bergantinya siang dan malam, ternyata adzan akan selalu berkumandang di bumi ini.

Tanpa kita sadari, para muadzin di seluruh penjuru dunia ini tak henti-hentinya bersahutan mengumandangkan adzan.

Insya Allah gema adzan akan terus mengawal dunia berputar hingga akhir zaman.


Subhanalloh, itulah kata-kata yang bisa saya ucapkan ketika melihat salah satu cuplikan azan maghrib tersebut... terhentak rasanya, bagaimana tidak, ternyata kalimat takbir, "ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR (Alloh YANG MAHA BESAR, ALLOH YANG MAHA BESAR, ALLOH YANG MAHA BESAR..." selalu dan senantiasa bergema dan saling sahut-menyahut mengiringi perjalanan manusia... Bisa kita bayangkan bagaimana kalimat-kalimat ini naik ke atas langit, memenuhi angkasa yang sangat luas..., berkeliling dengan gerakan perputaran yang teratur dan sangat indah, sekaligus meneriakkan lantang kepada kita, "Afala ya qiluun...?" "Afala yatadabbarun...?" Betapa kebesaran Alloh swt begitu tampak jelas di hadapan kita...

Subhanallah, betapa MAHA SEMPURNANYA Alloh sehingga dia bisa memperhitungkan segala-galanyanya. Dia membuat bumi dengan perbedaan waktu dan matahari dan seisi nya penuh dengan hikmah yang sangat agung.

Jika kita dapat merenungkan dan mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya, tentunya akan semakin besarlah pengagungan kita kepada-Nya dan tidak ada alasan lagi bagi kita untuk meninggalkan perintah-Nya karena adzan selalu memanggil-manggil kita untuk bersujud pada-Nya. Allohu Akbar

Selengkapnya...

JAKARTA, KOMPAS.com — Situs microblogging Twitter langsung heboh ketika ketika siaran langsung stasiun televisi swasta menayangkan tayangan di mana Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, yang juga mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera, berjabatan tangan dengan Ibu Negara Michelle Obama di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/11/2010) sore.
Pada Selasa sore, Presiden AS Barack Obama dan Michelle berkunjung ke Istana Merdeka. Setibanya di Istana Merdeka, Obama dan Michelle menyalami para anggota Kabinet Indonesia Bersatu Kedua dan pemimpin lembaga tinggi negara lainnya.

Kehebohan terjadi karena Tifatul selama ini berpegang teguh tak berjabat tangan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Soal "insiden" itu, Tifatul punya dalih sendiri.

"Sdh ditahan 2 tangan, eh Bu Michele-nya nyodorin tangannya maju banget...kena deh," begitu tweet Tifatul pada akun Twitter-nya, @tifsembiring
--------------------

Sudahlah pak... mendingan keluar aja deh dari sarang macan... sudah tidak ada rumusnya lagi mau menegakkan syari'at Islam lewat parlemen kufur bikinan orang-orang kafir... Wong baru soal menjaga jabat tangan aja dah susah... apalagi mau menegakkan syari'at Islam secara totalitas... ga kebayang... sudah begitu, berapa juta rakyat Palestina yang sakit hatinya ketika melihat saudara seimannya yang katanya membela mereka, justru sekarang berjabat tangan dengan musuhnya... Sadarlah wahai saudaraku...

Selengkapnya...

Pengikut Seiman

Pesan Tulisan


ShoutMix chat widget