Recent Posts

Recent Comments

FAJRI 99.3 FM


Tinggal Click

Jualan Buku Tanpa Modal

Sudah Gratis, Tok Cer lagi

smadav antivirus indonesia

Santun, ramah, dan tidak pernah merusak lingkungan… mendengar kata-kata seperti itu yang disematkan pada seseorang, tentu kita semua akan cekat menyanggah jika ada yang mempertanyakan keabsahan kebaikannya, “Baik, kok bisa-bisanya Anda sesatkan…?” Karena alasan seperti itu pula lah sebagian diantara kita dengan tanpa mempertimbangkan kesempurnaan syari’at Islam memutuskan untuk memberi penghargaan setinggi langit kepada sosok penjaga merapi yang terkenal itu, “Mbah Marijan”. Tanpa pernah mencoba mengerti akan arti dibalik sujud saat kematiannya, tanpa pernah menilik atas laku-laku “ritual anehnya”, dan tanpa pernah menggali lebih dalam tentang arti abdi dalem itu sendiri, kita semua lantang meneriakkan, “Dialah sosok pejuang sejati, setia mengabdi sampai mati…”
Ya, ketika kebaikan dan keburukan hanya terukur oleh lintasan akal, maka kebaikan dan keburukan itu pun menjadi suatu yang bias, tersamarkan, bahkan cenderung mudah dimanipulasi. Karena, semua orang tentu akan mudah berkata, “ini kan baik menurut saya…” Dan sang manipulator akan lebih canggih mempresentasikan hasil racikan akalnya, “Ini kan seni dan tidak melanggar hak asasi manusia…”
Ya, “ini kan baik menurut saya…” memang bisa benar seperti itu, tapi tidak seharusnya kita lupa untuk membubuhkan kalimat tanya setelahnya, “namun, bagaimana dengan orang lain…?” karena kita hidup tak sendiri, bukan? Dan karena orang lain, belum tentu setingkat pengolahan akalnya dengan kita, bukan? Atau, dan bahkan kalau mau selaras dengan identitas Islam yang tertera di KTP kita, kalimat tanya berikut seharusnya lebih tepat untuk kita persuntingkan, “namun, bagaimana dengan Alloh …?”

“Tetapi, boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagi kalian. Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (QS. al-Baqorah[2]: 216)
Alloh Yang Maha Tahu, Alloh Yang Maha Adil, semoga kita senantiasa berada dalam penjagaan-Nya…

Dan inilah KEJAWEN yang sebenarnya menjadi penggerak dari setiap laku seorang Mbah Marijan dan juga orang-orang yang seiman dengannya. Kejawen yang asalnya bermuara dari pengalaman hidup orang Jawa yang sebagian besar merupakan hasil interaksi dan observasi orang Jawa dengan alam semesta dan ditambah juga dengan adanya leburan falsafah-falsafah lainnya yang menyambangi ranah jawa pada akhirnya menjadi satu ajaran batin yang turun temurun diwariskan hingga saat ini. Walaupun ada fakta lain yang berbisik, yang menurutnya bahwa sebenarnya kejawen lahir di keraton, sengaja dibuat oleh sang raja yang duduk di singgasana untuk melestarikan otoritas kerajaannya. Maka dibuatlah simbol-simbol budaya bernuansa mistis yang kemudian dikenal dengan istilah kejawen ini.
Bagaimana pun sejarahnya, yang jelas ajaran ini bukanlah berasal dari Islam, meskipun seringkali dilekatkan kata Islam di depannya. Bolehlah kita menilai 9 atau 10 atas dzohir keramahan, kesantunan, kewelas asihannya terhadap sesama manusia, dengan tanpa harus kita pertanyakan terlebih dahulu untuk siapa semua amal tersebut, namun bagaimana dengan contoh fakta lainnya berikut ini yang sering diklaim sebagai ritual kejawen: Garebeg, Sekaten, Malam satu syuro, dan lainnya. Di mana di setiap ritual itu, mesti saja ditampilkan hal-hal yang mistik , atau penyucian benda-benda yang dianggap keramat yang sama sekali tidak pernah dikenal dalam sejarah Islam, bahkan justru dilarang.
Ah, kalau saja dahulu Rasulullah mengajarkan hal seperti itu, atau menawarkan ritual seperti itu kepada Abu Jahal, mungkinlah ia akan menyambutnya dengan wajah bercerahan, “Aha, ini baru yang gua suka…”
Maka, menjadi salah besar jika ada yang menggebyah uyah bahwa kejawen adalah Islam dan Islam adalah kejawen.
Bagaimana mungkin kejawen adalah Islam, sementara tertanam dalam jiwa pemeluknya, bahwa ada penguasa lain selain Allah di dunia ini. Seperti halnya gunung merapi yang diyakini memiliki penguasa yang bernama Mbah Petruk. Hingga drama gunung merapi yang sampai menewaskan beberapa orang yang tidak ikut lari itu pun adalah akibat ulah mereka mempertahankan keyakinan yang meyakini bahwa sang penguasa gunung pasti akan menyelematkan mereka. Tersebutlah kemudian sang abdi dalem kuncen merapi itu mati dalam sujud…, sujud menghadap gunung.
Setan. Ia lah yang sangat kita yakini menjadi kreator di balik semua ajaran ini. Betapapun indahnya ajaran ini yang dibungkus tebal-tebal dengan prinsip keseimbangan hidup yang mengharuskan manusia berlaku ramah dan welas asih terhadap sesama manusia dan bahkan lingkungan, namun bau busuk setan tetaplah begitu tercium menyengat dari dalam.
Inilah SETAN yang telah menyuntikkan DNA sinkritesme dalam tubuh KEJAWEN. Maka, syari’at-syari’atnya pun menjadi ala setan. Kesaksian terhadap Sapu Jagat, Petruk, Nyi Roro Kidul adalah bagian syahadatnya, sujud terhadap kerbau bule adalah sholatnya dan jiarah ke makam-makam para wali adalah hajinya.
Inilah SETAN yang telah memberi wahyu pada para pemeluk Kejawen untuk tidak perlu menjalankan sholat lima waktu sesuai syari’at Alloh , namun cukup dengan eling, sadar, yakin bahwa manusia bisa melebur dengan Alloh . Manunggaling kawula gusti. Cukup.
La haula wa la quwwata illa billah…
Sungguh, terlalu suci jika kata Islam harus disandingkan dengan kejawen. Namun begitulah setan, usahanya telah berhasil membuat manusia tidak lagi peka terhadap bau yang menyengat itu. Bahkan permasalahannya, sebenarnya bukan hanya soal peka atau tidak peka terhadap kebusukan ini, tetapi sesungguhnyalah kejawen ini telah menjadi senjata yang dipergunakan setan untuk menghancurkan Islam itu sendiri.
Maka, inilah setan. Mengemudi di atas pundak tunggangan yang bernama kejawen. Dzohir yang baik, santun, ramah, bahkan tidak hanya terhadap sesama manusia, namun juga terhadap alam sering ditafsirkan oleh akal sebagai sebuah kebaikan yang pasti diridhai tuhan. Al-Hasil, semua mata terpana, tersihir dengan tunggangan setan tersebut, dan bahkan menentang balik ketika ada yang berusaha memurnikannya. Begitulah setan, ia tak hanya menyebarkan kalimat kekufuran melalui personal orang per orang, membisikkan kata-kata, hingga menjadikan orang itu meyakini bahwa ada kekuatan lain di balik sebongkah pohon yang telah mengakar bumi ratusan tahun. Namun, ia juga dengan tahap mentahap, tahun menahun mampu membuat jaringan sindikat terorganisir yang dibungkus dengan aneka hal yang menarik hati, sehingga terjaringlah orang-orang yang bodoh terhadap syari’at Alloh . Dan memang, sindikat semacam ini sebenarnya telah lama dijalankan oleh setan, semenjak jaman Nuh hingga saat ini, yang telah mengkali lipat jumlahnya dan yang seterusnya menjelma menjadi musuh Islam yang nyata.
Inilah Mbah Maridjan, Keraton dan Kejawen dengan laku-laku ritual ala Setannya, maka, jika dikatakan bahwa kejawen adalah Mbah Marijan dan Mbah Marijan adalah kejawen, bolehlah itu kita terima. Tetapi maaf, jika dikatan Kejawen adalah Islam, atau minimalnya bagian dari Islam, meskipun peci hitam selalu melekat di atas kepala, meskipun ramah-tamah membuat hati tertambat suka, namun sungguhlah itu belum cukup untuk membuat deklarasi berikut terhenti terucap untuk menjadi penutup kesepakatan antara kita dan mereka:
Hai... Ahli Kejawen..!!
Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah...
Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah...
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah...
Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah...
Untuk kalian agama kalian, dan untukkulah, agamaku...

9 komentar

  1. Sony Hendra Setyawan  

    Ajaran kejawen, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut. Hal itu tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi dan budaya asing (Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS). Yang paling keras adalah benturan dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru disertai dengan upaya-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina, memalukan, rendah martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai kekafiran, sehingga harus ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri, dan harus diganti dengan “kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia segalanya. Dengan naifnya kepercayaan baru merekrut pengikut dengan jaminan kepastian masuk syurga. Gerakan tersebut sangat efektif karena dilakukan secara sistematis mendapat dukungan dari kekuatan politik asing yang tengah bertarung di negeri ini.

    Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image buruk terhadap kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial, pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu, diklaim oleh “pendatang baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Jawa. Hal itu sama saja dengan menganggap Islam itu buruk dengan cara menampilkan contoh perbuatan sadis terorisme, menteri agama yang korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai yang menghamili santrinya, dst.

    Tidak berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa (Jawa) Indonesia kuno sebelum era kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, kemudian dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan “local wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, tahyul mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah tersebut “di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama; misalnya; kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan, menyembah setan, dst. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya istilah tersebut justru mempunyai arti yang sangat religius.

  2. Sony Hendra Setyawan  

    Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan hukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama manapun unsur “klenik” ini selalu ada.

    Mistis : adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah tasawuf.

    Tahyul : adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat mempercayai adanya kekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta. Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam rukun Islam.

    Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsb sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoa melibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doa terkabul. Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual tersebut sering dianggap sebagai kegiatan gugon tuhon/ela-elu, asal ngikut saja, sikap menghamburkan, dan bentuk kemubadiran, dst.

    Kejawen : berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dan subyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, “pendatang baru” menganggap ajaran kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah “kejawan” ilang jawane, justru mempuyai andil besar dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupa bahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa bumi nusantara ini menggapai masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi penerus tahta kerajaan.

  3. Bakti doyo  

    SETAN DARI TANAH JAWA.
    Sungguh ungkapan yg tak bermanusiawi, ungkapan yg keluar dari hati pikiran yg sangat kotor, terkunci mati oleh hukum dan keyakinan nya sendiri. Bagai katak dalam tempurung saja, mengira tempatnya sdh sangat besar bagi dirinya. Padahal apabila sikatak itu mau keluar dari tempurungnya itu, tentu akan keheranan menyaksikan, ternyata ada juga tempat yg jauh lebih besar dari tempurungnya sendiri. Yaitu alam jagad raya ini. Itulah keesaan tuhan, allah dzat yg mengsingasanai alam jagad ini.
    Maka Bisa di ambil pelajaran, untuk kita kaji bersama. Janganlah kita ngotot kita yg benar... Yg lain sesat, yang ini kafir, yg itu biang setan dsb. Tak terpikirkah bagi anda bahwa kebenaran itu tuhan yg menilai. Dan kira kira siapa manusia yg benar bagi tuhan itu? Itupun allah juga tak perlu mempublikasikan nya kpd manusia yg lain. Tentang kebenaran cukup kebenaran itu hanya akan dirasakan, teryakini, oleh manusia manusia yg berhati mukmin saja. Terus siapakah manusia manusia berhati mukmin itu.....? Tentunya bukan karna bajunya, sorban nya, jubahnya, atau agamanya.
    Kalu anda sudah berani menyatakan ini sesat itu setan, hanya karna berdasar atas perbedaan dengan hukum adat tata cara dengan yg anda anut.
    Maka saya berani berkata "Bodohlah anda" mari kita kaji bersama sama atas semua ini, agar tidak ada permusuhan SARA yg berkembang di masyarakat. Dan jadikanlah perbedaan faham ini sebagai bukti atas ke esaan tuhan. Agar tidak ada perselisihan, hidup rukun tanpa kesenjangan. Karna sebenarnya bahwa semua ke majemukan adat istiadat sembah bakti manusia, tentu sama sama tertuju dan akan bermuara kesamudra hadiratnya. Salam

  4. A-Gan  

    Terimaka kasih atas tanggapannya... semoga bisa menjadi bahan renungan...

  5. mas toha  

    Anda baru mengenal kulit arinya saja, belum sampe mengenal kejawen.
    Sungguh naif kalo anda memandang rendah kejawen, kenali dulu apa itu kejawen,
    Kejawen bukan mbah marijan, kejawen memang bukan Islam,
    Pemikiran anda seperti halnya menyamakan kalo puasa itu adalah islam, padahal Islam tidak hanya puasa,
    Pemikiran anda sudah menunjukan bagaimana ilmu anda. BEGITU SANGAT RENDAHNYA ILMU ANDA TAPI ANDA SUDAH MENGANGGAP BAHWA ILMU ANDA SUDAH MENGUASAI KEJAWEN.

  6. Handi Johan  

    Batu Gambar kantong semar ( nepenthes )

    wa: +6282167618335.
    bb: 5a60aa54.
    fb: Pilotgemstone@yahoo.com.
    Handi Johan.
    line: handijohan.
    instragram: handi_johan
    youtube: Handi Johan

    https://m.youtube.com/channel/UC8_XoGQnJzag0cazHWpZTvw

  7. Annadyiah Ps  

    Saya bukan penganut Kejawen,tetapi saya mengerti Kejawen.Dan PENILAIAN anda mengenakan APA itu Kejawen sangat tipis.
    Anda belum mengerti Dan LANGSUNG tidak memahami Kejawen.
    Tapi tidak menyapa , semua Karena Anda belum mengerti apa itu Kejawen yang sebenarnya.
    Walaupun Kita bukan Penganut Kejawen, tetapi Kita harus akui bahwa Keindahan Dan KEIKHLASAN ada didalamnya Kejawen.
    Dan saya rasa banyak yg Salah dalam tulisane Anda ,terlihat kelas Anda tidak mengenal Kejawen.

  8. Annadyiah Ps  

    Saya bukan penganut Kejawen,tetapi saya mengerti Kejawen.Dan PENILAIAN anda mengenakan APA itu Kejawen sangat tipis.
    Anda belum mengerti Dan LANGSUNG tidak memahami Kejawen.
    Tapi tidak menyapa , semua Karena Anda belum mengerti apa itu Kejawen yang sebenarnya.
    Walaupun Kita bukan Penganut Kejawen, tetapi Kita harus akui bahwa Keindahan Dan KEIKHLASAN ada didalamnya Kejawen.
    Dan saya rasa banyak yg Salah dalam tulisane Anda ,terlihat kelas Anda tidak mengenal Kejawen.

  9. Annadyiah Ps  

    Saya bukan penganut Kejawen,tetapi saya mengerti Kejawen.Dan PENILAIAN anda mengenakan APA itu Kejawen sangat tipis.
    Anda belum mengerti Dan LANGSUNG tidak memahami Kejawen.
    Tapi tidak menyapa , semua Karena Anda belum mengerti apa itu Kejawen yang sebenarnya.
    Walaupun Kita bukan Penganut Kejawen, tetapi Kita harus akui bahwa Keindahan Dan KEIKHLASAN ada didalamnya Kejawen.
    Dan saya rasa banyak yg Salah dalam tulisa Anda ,terlihat jelas Anda tidak mengenal Kejawen.

Post a Comment

Pengikut Seiman

Pesan Tulisan


ShoutMix chat widget